Kompas.com - 06/10/2012, 07:50 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

SAMPANG, KOMPAS.com - Majelis Ulama Indonesa (MUI) Kabupaten Sampang, Jawa Timur, akan menekan warga Syiah Sampang yang kini masih tinggal di penampungan di gedung tenis indoor, untuk kembali ke ajaran Sunni.

Namun tekanan itu hanya berlaku bagi warga Syiah yang mau kembali lagi ke kampung halamannya di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dan Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang, Sampang.

Berdasarkan data sementara di MUI Sampang, 75 persen warga Syiah tetap menolak untuk kembali ke kampung halamannya dan memilih tetap berada di penampungan. Sementara 25 persen menyatakan mau kembali lagi ke kampung halamannya.

"Yang 25 persen itu akan kami sumpah agar bertobat dan kembali ke ajaran yang tidak sesat, sehingga mereka bisa hidup damai rukun dan berdampingan bersama warga lainnya," terang Bukhori Maksum, Ketua MUI Sampang, Sabtu (6/10/2012).

Dikatakan Bukhori, jika mereka kembali dan tidak mau bertobat dari kesesatannya, maka masyarakat setempat katanya akan bertindak lebih anarkis lagi. "Jangan coba-coba kembali lagi kalau tidak bertobat dulu, karena bisa saja warga Sunni bisa lebih anarkis," tandasnya.

Keputusan untuk menyumpah agar warga Syiah bertobat itu, diperoleh setelah adanya pertemuan tertutup di aula kantor Kementerian Agama Kabupaten Sampang, dengan dihadiri 12 kiai terdiri dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang, Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASRA), Majelis Ulama Indonesia (MUI) serta Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Jumat malam.

Terpisah Kepala Bakesbangpol Sampang, Rudi Setiadi, menuturkan untuk sementara pihaknya akan mencari jalan dengan membicarakan hasil pertemuan ini dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Pusat. "Kami akan mencarikan jalan keluar jika memang jamaah Syiah tidak mau kembali kepada ajaran yang benar. Keputusan pertemuan malam ini sifatnya sementara sambil menunggu hasil kesepakatan dengan pemerintah pusat," ujar Rudi.

Ditegaskan Rudi, jika jamaah Syiah kembali kepada ajaran yang benar dan mereka mau bertobat serta menjaga kondusivitas keamanan seperti yang disepakati para ulama dan warga di dua desa tersebut, maka keputusan itu dianggap final.

Sementara Iklil Al Milal, pimpinan Syiah di penampungan tetap bersikukuh tidak akan bersumpah demi merubah keyakinannya kepada Syiah. "Kalau kami dipaksa untuk bersumpah ini namanya pelanggaran hak asasi manusia. Siapa yang bisa memaksanakan keyakinan kepada kami," tandasnya.

Kakak kandung Tajul Muluk, pimpinan Syiah Sampang dan Roisul Hukama, tersangka kerusuhan Sampang ini, tetap akan mempertahankan keyakinannya. Sebab dirinya yakin kalau ajaran Syiah tidak sesat. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.