Menjadikan ASEAN Inklusif dan Multilateral

Kompas.com - 04/10/2012, 02:41 WIB
Editor

Dalam derajat tertentu, posisi ASEAN menghadapi kepentingan dan kekuatan multipolar dalam era globalisasi, memerlukan rumusan baru untuk mencapai posisi yang lebih berpengaruh. Pengaruh globalisasi disertai dinamika kawasan Asia Tenggara tanpa dirancang telah menghadirkan berbagai kekuatan multipolar seperti Amerika Serikat, China, Rusia, dan Jepang dalam peran serta menjaga kepentingannya.

Rumusan yang terpikirkan adalah mengangkat usulan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa tentang keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium) sebagai pendekatan holistik dinamika kerja sama berbagai bidang di kawasan Asia. Keseimbangan dinamis ini menjadi sangat relevan ketika kekuatan besar saling berbenturan kepentingan di kawasan ini.

Kebijakan rumusan politik dan keamanan ASEAN dengan prinsip ini akan menjadi kekuatan pengimbang—bukan sekadar kekuatan menengah—mengakomodasi kepentingan berbagai negara di kawasan ASEAN, termasuk empat kekuatan besar China, AS, Rusia, dan Jepang. Rumusan keseimbangan dinamis yang sesuai dengan politik bebas aktif sebelumnya tidak selalu disejajarkan dan diperjuangkan memenuhi kepentingan nasional.

Tekanan berbagai kepentingan membuat berbagai rumusan proyeksi kebijakan politik luar negeri Indonesia selama ini terlihat tidak selalu sejalan. Ini antara lain yang menjelaskan sulitnya merumuskan Kode Tata Berperilaku (Code of Conduct) di Laut China Selatan.

Prinsip keseimbangan dinamis harus dipahami sebagai preservasi Indonesia dan ASEAN pada umumnya sebagai pengimbang kondisi kepentingan masing-masing atas masalah keamanan dan kebebasan bermanuver di kawasan. ”Ini menuntut kita senantiasa menjadi pihak yang menempatkan pressure ke satu pihak sehingga selalu terjadi keseimbangan,” kata Natalegawa dalam suatu kesempatan.

Menempatkan prinsip di antara keempat negara besar China, AS, Rusia, dan Jepang akan sangat tergantung pada eksistensi konflik di antara mereka, sekaligus juga di antara negara-negara anggota ASEAN. Silang klaim tumpang tindih kedaulatan di Laut China Timur dan Laut China Selatan akan menjadi konflik terbuka mengancam dinamika keseimbangan politik, ekonomi, dan keamanan kawasan.

Pengertian yang dicapai antara AS dan China dengan sendirinya akan berdampak atas eksistensi dinamika Taiwan, Korea Selatan, dan negara-negara Indochina. Pendekatan yang terjadi antara China dan Rusia akan menggeser India sebagai penyangga berhadapan dengan China, sekaligus menjadi ancaman potensial bagi Jepang.

Tanpa ASEAN dan upaya yang dilakukan organisasi regional ini selama 45 tahun, kawasan Asia akan menjadi tidak inklusif, sangat kompetitif, dan pasti tidak memiliki nuansa dan jiwa multilateral. Tanpa prinsip keseimbangan dinamis itu, ASEAN akan terpaku pada pola perimbangan kekuatan ala Perang Dingin, mudah terseret dalam konflik kepentingan, dan kehilangan dinamika diplomasinya. (Rene L Pattirajawane)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.