Menuju Internasionalisme Asia Tenggara

Kompas.com - 01/10/2012, 02:22 WIB
Editor

Pengantar Redaksi:

Harian ”Kompas” bersama Kementerian Luar Negeri RI dan Center for East Asian Cooperation Studies Universitas Indonesia (CEACoS UI) pada 3 September 2012 mengadakan diskusi bertemakan ”Masa Depan ASEAN di Tengah Berbagai Kepentingan dan Kekuatan Multipolar Global”. Diskusi di Kantor Redaksi ”Kompas” Jakarta itu menampilkan panelis Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN I Gusti Agung Wesaka Puja yang diwakili Direktur Mitra Wicara dan Antar Kawasan Rahmat Pramono, I Gede Ngurah Swajaya (Perwakilan Tetap RI untuk ASEAN), ekonom Unika Atma Jaya A Prasetyantoko, pengamat ekonomi internasional Prof Djisman Simandjuntak, dan pejabat Direktur Eksekutif CEACoS UI Makmur Keliat. Laporan diskusi diturunkan dalam empat tulisan, mulai hari ini sampai Kamis mendatang.

Bagi organisasi regional ASEAN yang pada 8 Agustus berusia 45 tahun, abad ke-21 adalah tantangan. Bukan hanya terkait integrasi pembentukan masyarakat ASEAN di atas pilar ekonomi, politik dan keamanan, serta sosial budaya, melainkan juga terkait evaluasi ulang peran dan fungsinya di era globalisasi. Pengelompokan regional di Asia Tenggara berada pada simpang kritis di tengah sejumlah masalah, termasuk ancaman resesi ekonomi global ataupun interaksi negara-negara besar, seperti Amerika Serikat, China, India, Rusia, dan Jepang.

Ketika Pertemuan Para Menteri Luar Negeri ASEAN (AMM) di Phnom Penh, Kamboja, Juli lalu, untuk pertama kali tak berhasil menghadirkan komunike bersama sesuai tradisi ”Jalan ASEAN”, banyak pihak mulai melihat ASEAN kehilangan peran dan pengaruhnya mengawal dinamika dan stabilitas keamanan di kawasan Asia Tenggara.

Dilema ASEAN kini adalah sejumlah isu ekonomi, politik, dan keamanan yang dihadapi di kawasan Asia Tenggara menjadi terlalu besar sehingga ASEAN tampak tak lagi bisa melakukan apa pun dengan memadai. Sejumlah persoalan yang dihadapi ASEAN, termasuk sidang AMM di Kamboja itu, mengundang banyak kritik terhadap organisasi regional ini.

ASEAN pascaperang Indochina memang diharapkan menjadi panacea bagi stabilitas politik keamanan dan dinamika ekonomi. Mekanisme kerja sama ASEAN melalui noninterferensi dan mufakat dianggap sudah tak lagi memadai di era globalisasi.

Dalam era ini, kekuatan hegemoni dunia, yang sebelumnya terpusat pada AS-Uni Soviet pada masa Perang Dingin, bergeser membentuk kekuatan multipolar yang melahirkan kekuatan negara adidaya baru.

Banyak pihak melihat ASEAN sebagai organisasi yang bereaksi pada sejumlah isu yang muncul di Asia Tenggara, khususnya pasca-Perang Dingin. Secara mencolok, ASEAN menjadi sangat aktif menyelesaikan konflik Kamboja, kemudian bergeser dan terbelenggu dalam isu hak asasi di Myanmar.

Di sisi lain, ketika kepentingan masing-masing anggota berbenturan satu sama lain—atau bersinggungan dengan kekuatan tetangga, seperti klaim tumpang tindih Laut China Selatan—organisasi regional ini dianggap tak mampu menyelesaikannya dan condong mendorong persoalan ”masuk ke bawah karpet”.

Ini kenyataan yang memang menjadi pokok persoalan penting dalam rangka antisipasi untuk memberikan bobot dan nuansa ke-ASEAN-an bagi kawasan strategis Asia Tenggara.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.