Kompas.com - 24/09/2012, 08:12 WIB
EditorEgidius Patnistik

Menjadi orang kaya dengan ”gelar” jutawan ternyata belum cukup untuk kebal terhadap krisis. Anda harus meraih level miliarder untuk selamat dari badai krisis keuangan global saat ini.

Banyak jutawan yang bertambah miskin tahun lalu. Namun, jika sudah menjadi miliarder, krisis pun seolah tak terasa. Para miliarder memanfaatkan tim manajemen pengelola kekayaan mereka untuk memanfaatkan gejolak di pasar yang menyerang para jutawan.

Demikian antara lain hasil penelitian perusahaan riset Wealth-X di Singapura.

Jumlah orang yang setidaknya memiliki kekayaan sebesar 30 juta dollar AS (Rp 286,2 miliar) naik menjadi 187.380 orang. Namun, jumlah total kekayaan mereka turun 1,8 persen menjadi 25,8 triliun dollar AS. Jumlah ini masih lebih besar dibandingkan dengan besaran ekonomi China dan AS.

Kelompok yang paling tertekan dalam krisis ini adalah mereka yang memiliki kekayaan antara 200 juta dollar AS dan 400 juta dollar AS. Menurut World Ultra Wealth Report berdasarkan data hingga 31 Juli lalu, jumlah kelompok ini turun 9,9 persen dan kekayaan mereka melorot 11,4 persen.

Sementara itu, orang yang benar-benar kaya justru berhasil menambah hartanya. Jumlah mereka naik 9,4 persen menjadi 2.160 orang dan kekayaan mereka naik 14 persen menjadi 6,2 triliun dollar AS.

”Walaupun hanya memiliki kekayaan satu atau dua miliar dollar AS, mereka mendapatkan banyak keuntungan. Mereka memiliki banyak nasihat investasi dan jelas menarik perhatian bank-bank besar,” ujar Mykolas Rambus, CEO Wealth-X.

”Ini merupakan isu untuk mereka yang berada di tengah- tengah. Mereka yang memiliki kekayaan 100 juta dollar AS-500 juta dollar AS. Saya tidak yakin mereka mempekerjakan orang yang benar-benar bagus untuk mengelola portofolio dan perusahaan mereka dengan sukses,” katanya.

Seiring dengan persoalan finansial yang melanda Eropa dan AS, para orang kaya mengalihkan investasi spekulatif mereka ke perusahaan swasta, komoditas, dan properti.

Asia menderita penurunan kekayaan yang paling banyak, turun 6,8 persen menjadi 6,25 triliun, karena pasar saham yang melemah dan permintaan ekspor yang berkurang dari Barat.

Kekayaan juga menurun di Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Sementara warga Amerika Utara bertambah kekayaannya sebesar 2,8 persen menjadi 8,88 triliun dollar AS dan Oseania naik 4,4 persen menjadi 475 miliar dollar AS, sebagian besar berasal dari Australia.

Akan tetapi, jangan remehkan orang kaya di Asia. Seiring dengan penurunan kekayaan di Jepang, China, dan India yang merupakan rumah dari 75 persen penduduk amat sangat kaya, akan terjadi pembalikan. Mereka akan bangkit. Hal ini berdasarkan kekuatan sistem finansial kawasan dan ekonomi.

”Total kekayaan orang superkaya di Asia diperkirakan melampaui total kekayaan di AS pada tahun 2020,” demikian laporan tersebut.

Kalau jutawan saja rentan krisis, bagaimana yang miskin? (Reuters/Joe)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X