Kompas.com - 13/09/2012, 10:45 WIB
EditorEgidius Patnistik

NEW YORK, KOMPAS.com — Amerika Serikat akan meningkatkan pengamanan di kedutaan dan konsulatnya di seluruh dunia, menyusul serangan tragis pada Selasa (11/9/2012) terhadap Konsulat AS di Benghazi, Libya, yang menewaskan duta besarnya dan tiga diplomat AS lainnya.

Rencana tersebut diungkapkan Presiden AS Barack Obama ketika memberikan pernyataan pers di Washington DC, Rabu, seperti yang disampaikan dalam pernyataan yang dikeluarkan Gedung Putih. "Saya juga telah mengarahkan pemerintahan saya untuk meningkatkan pengamanan di pos-pos diplomatik di seluruh dunia," kata Obama di Rose Garden, Gedung Putih, saat mengumumkan insiden di Benghazi.

Dalam kesempatan itu, ia memastikan bahwa empat diplomat AS tewas dalam serangan hari Selasa di Benghazi, termasuk Duta Besar AS untuk Libya Christopher Stevens dan staf bidang pelayanan publik Konsulat AS, Sean Smith. Obama belum menyebutkan identitas dua diplomat lainnya. "Kami masih dalam proses memberi tahu keluarga mereka," ujarnya.

Obama menyatakan kembali bahwa AS mengutuk sekeras-kerasnya "serangan yang keterlaluan dan mengagetkan" ini dan menegaskan bahwa Pemerintah AS akan mengamankan para diplomatnya dan bersama Pemerintah Libya akan menyeret para pelaku serangan Benghazi ke meja hijau. "Kita sedang bekerja sama dengan Pemerintah Libya untuk mengamankan diplomat-diplomat kita. Dan jangan membuat kesalahan, kita akan bekerja sama dengan Pemerintah Libya untuk membawa para pelaku pembunuhan yang menyerang warga kita untuk diadili," kata Obama.

Presiden Obama juga menegaskan bahwa AS mengharamkan upaya-upaya untuk merendahkan kepercayaan agama siapa pun. "Tapi, pasti tidak ada pembenaran apa pun bagi jenis kekerasan yang tidak masuk akal ini. Tidak ada. Dunia harus bersama-sama menolak aksi-aksi brutal seperti ini," katanya.

Menurut laporan media, Duta Besar Christopher Steven, tiga diplomat AS, dan beberapa staf lokal Libya tewas dalam serangan yang kemungkinan dilakukan oleh "kelompok agama" di Libya pada Selasa malam.

New York Times mengutip para pejabat Libya yang mengatakan bahwa dalam kekerasan yang terjadi di Benghazi, para pengunjuk rasa menyerang Konsulat AS dengan senapan-senapan otomatis dan granat roket. New York Times melaporkan, kekerasan hari Selasa itu awalnya dipicu oleh kemarahan massa terhadap cuplikan film Amerika berdurasi 14 menit yang berjudul Innocence of Muslims, yang disiarkan di laman internet.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Film tersebut baru-baru ini dipublikasikan oleh media Mesir, yang mengingatkan kembali gelombang kemarahan dan unjuk rasa tahun 2005 berkaitan dengan munculnya 12 kartun yang mengolok-olok Nabi Muhammad yang diterbitkan oleh sebuah surat kabar di Denmark.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.