Kompas.com - 05/09/2012, 16:53 WIB
EditorEgidius Patnistik

KAIRO, KOMPAS.com — Larangan selama bertahun-tahun terhadap pembawa berita berjilbab di stasiun televisi milik pemerintah di Mesir dihapus pada akhir pekan lalu, menyusul keputusan dari pemerintah yang didominasi kelompok Islamis. Keputusan tersebut mendapatkan sambutan hangat dari para perempuan berjilbab dan kecaman dari kelompok lainnya yang menginginkan masyarakat yang lebih sekuler.

Fatma Nabil, pembawa berita televisi baru yang berjilbab, tampak membawakan berita sore bersama pembawa acara laki-laki di stasiun ChannelOne di Mesir.

Menteri Informasi Mesir, Salah Abdel Maksoud, yang berasal dari kelompok politik berpengaruh Muslim Brotherhood, mengatakan kepada wartawan Sabtu lalu bahwa lebih banyak pembawa acara perempuan berjilbab telah direkrut oleh stasiun televisi milik pemerintah, setelah rezim yang sekuler melarangnya selama beberapa dekade.

Mayoritas perempuan Mesir mengenakan kerudung sehari-hari. Tren tersebut bertambah nyata sejak akhir 1970-an, menurut analis Khattar Abou Diab, yang mengajar ilmu politik di University of Paris.

Ia mengatakan bahwa kecenderungan masyarakat menjadi lebih Islami dimulai pada 1970-an di bawah pemerintahan mantan Presiden Anwar Sadat dan sekarang kembali meningkat setelah Muslim Brotherhood berkuasa. Ia mengatakan bahwa Mesir memberi ruang lebih pada Islam, tidak seperti kelompok liberal Mesir pada 1940-an, 50-an, dan 60-an.

Abou Diab mengatakan bahwa Mesir adalah persimpangan jalan antara dunia Sunni dan Syiah, dan bahwa pakaian Islami menggabungkan aspek kedua dunia tersebut.

Said Sadek, dosen sosiologi politik di American University di Kairo, mengatakan bahwa mengizinkan jurnalis perempuan memakai jilbab di televisi merupakan tanda penghormatan pada hak-hak asasi manusia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sadek mengatakan bahwa rezim mantan Presiden Hosni Mubarak melarang pembawa acara televisi berjilbab karena sepertinya perempuan di pedesaan melihat pembawa berita di televisi sebagai panutan. Rezim masa lalu tersebut, menurut Sadek, khawatir pembawa acara televisi berjilbab akan menyebarkan gerakan jilbab di masyarakat.

Editor Mesir veteran, Hisham Kassem, mengatakan bahwa keputusan untuk mengizinkan pembawa berita berjilbab adalah penegakan kebebasan individu. Namun, ia mengatakan bahwa produksi televisi pemerintah mengeluarkan biaya tinggi yang dibayar oleh pembayar pajak sehingga pejabat media seharusnya lebih fokus pada konten yang lebih baik ketimbang penampilan.

Sebagian besar saluran satelit Arab mengizinkan pembawa berita perempuan memakai jilbab. Namun, beberapa organisasi media Arab mencoba menghambat kecenderungan tersebut dengan tidak mempekerjakan pembawa acara berjilbab.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.