Kompas.com - 05/09/2012, 14:06 WIB
EditorEgidius Patnistik

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Gadis Pakistan yang diduga telah dijebak seorang mullah lokal untuk melakukan penghujatan justru dipuji sebagai seorang "putri bangsa" oleh seorang ulama Islam paling senior di Pakistan. Ulama senior itu juga berjanji untuk menjamin keselamatan gadis beragama Kristen itu jika dia akhirnya dibebaskan dari penjara.

Dukungan kuat bagi Rimsha Masih, gadis yang berada di pusaran kasus itu, dari ketua Dewan Ulama Seluruh Pakistan, sebuah kelompok para ulama Islam, dilihat sebagai titik balik yang luar biasa dari sejumlah peristiwa di negara itu di mana orang-orang yang dituduh menghina Islam hampir tidak pernah dibantu oleh para tokoh masyarakat yang berpengaruh. Dalam sebuah konferensi pers yang berapi-api di sebuah hotel Islamabad pusat, dan diapit para ulama senior lainnya, Hafiz Mohammad Tahir Mehmood Ashrafi mendesak semua komponen negara Pakistan untuk bersama-sama menyelidiki keadaan di sekitar penangkapan gadis yang diklaim mengalami down syndrome itu pada bulan lalu.

Dia juga mengecam Hafiz Mohammed Khalid Chishti, seorang imam dari lingkungan kumuh Mehrabadi, yang akhir pekan lalu dituduh telah merusak barang bukti yang bisa memastikan gadis itu bersalah.

"Kepala kita tertunduk malu atas apa yang dilakukan Chishti," katanya.

Ia kemudian mengatakan bahwa Chishti hanyalah orang terdepan dari sejumlah individu lain yang "berada di belakang layar" yang ingin memicu adanya konflik lokal terhadap kaum minoritas Kristen di daerah itu. Orang-orang itu, kata Ashrafi, ingin memaksa kaum minoritas Kristen melarikan diri. "Saya sudah tahu selama tiga bulan terakhir bahwa beberapa orang di daerah itu ingin komunitas Kristen pergi sehingga mereka bisa membangun sebuah madrasah di sana," katanya.

Ia mengatakan, dirinya  akan mengungkapkan informasi lanjutan tentang orang-orang yang berada di balik dugaan untuk membangun sebuah sekolah Islam pada properti-properti yang ditinggalkan oleh orang-orang Kristen.

Ulama itu, yang pada masa lalu dikaitkan dengan Dewan Pertahanan Pakistan, yang anggotanya mencakup kelompok-kelompok militan terlarang, berbicara beberapa jam setelah keputusan pengadilan untuk kembali menunda sidang tentang penjaminan bagi Rimsha sampai seminggu lagi.

Para pengacara yang membela Malik Hammad, seorang pria dari lingkungan tempat tinggal Rimsha yang menyatakan telah menangkap gadis itu saat membuang sisa-sisa bakaran dari sebuah buku yang mencakup ayat-ayat Alquran, mengatakan mereka tidak bisa hadir di pengadilan karena Punjab Bar Association menggelar aksi mogok sehari.

Namun, kasus melawan Chishti terus berkembang setelah dua saksi memberikan pernyataan yang berimplikasi mullah itu terlibat dalam komplotan menjebak Rimsha.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.