Kompas.com - 14/08/2012, 13:00 WIB
EditorHindra

KOMPAS.com — Puasa Ramadhan di Eropa tahun ini jatuh pas musim panas, yang berarti jarak antara terbit dan terbenamnya matahari mencapai 19 jam. Selama itu pula kaum Muslimin harus menahan lapar dan dahaga berpuasa.

Puasa 19 jam? Kalau melihat angka 19 memang terasa lama sekali. Itu pula yang dibayangkan Ketua Indonesia Islamic Centre (IIC) London Memet Purnama Hasan. ”Saya baru pertama kali ini merasakan puasa Ramadhan di musim panas. Bayangan saya, pasti lemes banget,” katanya.

Ternyata, 19 jam akan berlalu dengan cepat jika waktu itu dimanfaatkan untuk bekerja. ”Memang lebih lamanya itu terasa, tapi ya bisa kok. Sore setelah kerja, ya tinggal nunggu beberapa jam untuk berbuka,” ujar Memet.

Pada hari-hari awal Ramadhan, 19 jam memang terasa berat. Namun, justru di situlah tantangannya, seperti dirasakan Ashleika Adelea (25), mahasiswi Arsitektur University College London, yang saat ini sedang menyusun disertasi masternya. Ia bahkan menemani teman-temannya makan dan ngopi di kafe. Sementara teman-temannya yang tidak berpuasa makan, ia sibuk memencet-mencet tombol telepon selulernya.

”Mulanya terasa berat, tapi lama-lama terbiasa. Justru pas saat berbuka jadi nikmat. Lalu sorenya, mulai merancang-rancang mau berbuka di mana, pakai lauk apa. Kayak hari ini, aku mau buka puasa makan ramen di China Town. Puasa jadi seru,” kata Ashleika.

Menurut Memet, perputaran bulan membuat puasa menjadi dinamis. Pada saat musim dingin, puasa sangat singkat, berbuka ibaratnya hanya menggeser waktu makan siang. ”Jadi, ya, Allah sudah mengatur. Kadang diberi puasa panjang, kadang pendek. Kalau puasa pendek senang, masak kalau pas panjang kita tidak bisa menerima,” tuturnya.

Lama dan singkatnya berpuasa sudah dialami bertahun-tahun oleh Dewi Mukti, Suciningsih, dan Sri Lestari, pegawai di KBRI London yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di London. ”Puasa yang sangat singkat pernah merasakan, panjang juga iya. Tahun depan bahkan akan lebih panjang lagi, bisa 20 jam puasanya,” kata Lestari.

Oleh karena itu, untuk mengisi Ramadhan, IIC bekerja sama dengan KBRI dan masyarakat Muslim di London menggelar serangkaian kegiatan. Ada pengajian rutin sepekan dua kali dengan mengundang Ustaz A Salim Fillah dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, lalu pesantren kilat untuk anak-anak dan remaja, serta beberapa kegiatan seni.

”Mereka yang tidak bekerja bisa memanfaatkan waktu dengan mengikuti kegiatan Ramadhan,” kata Memet.

Pesantren kilat Ramadhan dengan tema ”Proud to be A Moslem” diikuti 40 anak dan remaja. Koordinator pelaksana kegiatan pesantren kilat, Fitri Yantin, mengatakan, ide pesantren kilat Ramadhan ini justru berasal dari orangtua santri TPA. ”Mereka menginginkan anak-anak mendapatkan tambahan kegiatan selama bulan puasa,” ujar Fitri Yantin yang juga Wakil Ketua Muslimat NU Inggris.

Menurut Memet, Pemerintah Inggris sangat toleran terhadap kehadiran agama apa pun. Kebebasan beribadah sangat dihargai. Itu pula yang dirasakan jemaah London Central Mosque, satu masjid di London. Nikmat beribadah jika bisa seleluasa ini. Tidak ada ketakutan menjadi kaum minoritas. (IVV)

 

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X