Kompas.com - 10/08/2012, 14:31 WIB
EditorKistyarini

EL-ARISH, KOMPAS.com — Mesir menggelar pasukannya di Sinai, Kamis (9/8/2012), dalam satu operasi untuk menumpas kelompok garis keras, sementara para pemimpin suku Badui dalam satu pertemuan dengan menteri dalam negeri menjanjikan dukungan mereka.

Puluhan kendaraan lapis baja pengangkut pasukan yang dilengkapi dengan senapan-senapan mesin melalui kota El-Arish menuju arah timur, tempat para anggota kelompok garis keras Badui, memiliki pangkalan di desa-desa di dekat perbatasan dengan Jalur Gaza.

Sebelumnya, televisi pemerintah melaporkan bahwa helikopter-helikopter militer dan tentara menewaskan 20 gerilyawan pada Rabu (8/8/2012), dalam operasi pertama seperti itu di Sinai dalam puluhan tahun, untuk membalas serangan-serangan kelompok itu yang menewaskan 16 tentara Mesir.

Pada Kamis, Israel memberi izin Mesir untuk mengerahkan pasukan menggunakan helikopter-helikopter di Sinai, yang melonggarkan pembatasan kehadiran militer di semenanjung itu sesuai perjanjian perdamaian tahun 1979 antara dua negara bertetangga itu.

Dalam pertemuan Kamis malam, dengan Menteri Dalam Negeri Ahmed Gamal ad-Din di El-Arish, sekitar 50 km barat perbatasan Jalur Gaza, para pemimpin suku Badui menuntut untuk melihat mayat para gerilyawan yang dilaporkan tewas.

"Kami menuntut mereka memperlihatkan kepada kami jenazah-jenazah itu, satu atau dua mayat, agar kami yakin," kata Eid Abu Marzuka, salah seorang dari warga Badui, menyatakan setuju membantu militer dan polisi untuk memulihkan keamanan di semenanjung itu dan menutup terowongan-terowongan yang digunakan untuk menyelundupkan barang-barang dan senjata-senjata ke Jalur Gaza.

"Ada konsensus di antara suku-suku untuk menghancurkan terowongan-terowongan itu."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kami menentang penyelundupan dan pengepungan itu," tambah Marzuka, yang mengacu pada blokade Israel yang diberlakukan terhadap Jalur Gaza setelah Hamas menguasai wilayah itu tahun 2007.

Menteri dalam negeri mengatakan, pasukannya dan militer akan mengalahkan kelompok garis keras dengan bantuan warga Badui, yang memusuhi pemerintah pusat dengan alasan mengabaikan mereka. "Dengan bantuan rakyat (Sinai), misi itu akan berhasil," katanya kepada wartawan setelah pertemuan itu.

Namun, seorang pejabat senior keamanan yang ditempatkan di Sinai mengakui bahwa mereka menghadapi satu musuh yang sukar dipahami yang mendapat keuntungan dari gunung yang sulit dilalui dan daerah gurun.

Serangan Minggu itu di satu pos depan perbatasan, tempat para gerilyawan membunuh 16 tentara sebelum merampas satu kendaraan militer menuju Israel, mengagetkan pemerintah dan memicu Presiden Mohamed Moursi memecat kepala badan intelijen dan dua jenderal militer.

Militer mengatakan, para gerilyawan tiu didukung tembakan mortir dari Jalur Gaza dalam serangan itu.

Setelah pelantikannya pada 30 Juni, Moursi bergerak untuk melonggarkan pembatasan di pelintas perbatasan dengan Gaza dan bertemu dengan pemimpin Gaza, Ismail Haniya. Mesir menutup kembali tempat penyeberangan itu setelah serangan Minggu itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.