Kami Rindu Kembali...

Kompas.com - 24/07/2012, 05:25 WIB
Editor

”Karena itu, keberhasilan meraih peluang offset/kompensasi yang telah diperoleh oleh Dubes RI di AS harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai wahana untuk bangkitnya industri dirgantara di Indonesia,” ujar Gautama, salah seorang diaspora Indonesia yang kini bermukim di Seattle, AS.

Saat ini sekitar 60 diaspora Indonesia lulusan dari sejumlah universitas di Indonesia, AS, dan Eropa bekerja di Boeing Company pada program pesawat terbang 737, 747, 757, 767, 777, 787.

Bidang pekerjaan dan karier diaspora Indonesia pada industri pesawat terbang Boeing cukup luas dan bervariasi, seperti manajemen, technical leader, design engineer, stress engineer, keuangan, pemasaran, pengetesan struktur, tes terbang, lean office, dan assembler.

Sebagian besar dari diaspora Indonesia itu pernah bekerja dan mendapatkan bekal pengalaman bekerja di PT Dirgantara Indonesia.

”Kami patut berterima kasih kepada Bapak BJ Habibie yang telah membesarkan serta memberikan kesempatan untuk berkarya dan menimba pengalaman di IPTN/PTDI dahulu,” ujar Gautama.

WNI untuk jabatan-jabatan pada middle management di perusahaan raksasa AS itu memang tidak banyak. Salah satunya adalah Agung H Soehedi yang bekerja di Boeing sejak 2001 lalu. ”Saat itu, WNI yang bekerja di Boeing belum banyak, 25-30 orang,” kenang Agung yang juga pernah bekerja di PTDI.

Perusahaan pesawat terbang komersial yang kini mengerjakan lebih dari 150.000 karyawan itu memberikan fasilitas penghasilan 150.000-200.000 dollar AS per tahun. ”Bukan soal pendapatan, di sini kami senang bekerja karena diakui. Masyarakatnya lebih agamais dan sangat menghargai orang,” ungkap Bramantya Djermani, WNI yang bekerja di Industrial Engineer Final Assembly and Delivery Commercial Airplanes-787 Dreamliner.

Bangsa ini mampu

Data-data di atas membuktikan bahwa keahlian anak bangsa Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Mereka mampu berkarya dalam industri pesawat terbang bagi bangsanya kalau diberikan kesempatan, dibina, dan diperhatikan oleh pemerintah.

Dalam kaitan ini pemberian offset/kompensasi dari Boeing harus dimanfaatkan semaksimal mungkin bagi industri dirgantara di Indonesia. Baik bagi industri pesawat terbang, industri penerbangan, industri pemeliharaan pesawat dan engine, maupun peningkatan kemampuan sumber daya.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.