Libya Ikuti Jejak Aljazair

Kompas.com - 11/07/2012, 02:21 WIB
Editor

Tripoli, Kompas - Hasil sementara pemilu parlemen Libya yang diumumkan Ketua Komisi Pemilihan Umum Nouri el-Abbar, Senin (9/7) petang, tidak berbeda jauh dari berita yang dirilis media lokal sehari sebelumnya. Koalisi Kekuatan Nasional (NFA) yang beraliran liberalis pimpinan Mahmud Jibril unggul atas kubu Islamis.

Jika hasil itu tidak berubah, Libya memilih mengikuti jejak Aljazair, bukan Tunisia, Maroko, atau Mesir. Pemilu parlemen Aljazair pada bulan Mei lalu dimenangi secara telak oleh Front Pembebasan Nasional (FLN) yang beraliran nasionalis/liberalis. Hasil akhir pemilu Libya dijadwalkan diumumkan dalam dua hari ini.

NFA di sebagian besar daerah pemilihan yang sudah dihitung menang telak atas saingan terdekatnya, yaitu Partai Keadilan dan Pembangunan (JCP) yang merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin di Libya.

Di distrik elite Ganzour, Tripoli Barat, NFA meraih 26.400 suara, berbanding JCP yang meraih 2.400 suara. NFA berhasil meraih 19.000 suara di Zeltin, berbanding perolehan JCP yang cuma 5.600 suara di kota itu. NFA sejauh ini hanya kalah di Misrata. Di kota terbesar ketiga setelah Tripoli dan Benghazi ini, NFA hanya mendapat 6.000 suara, berbanding 17.000 suara JCP.

Analis politik Libya, Saleh Mergani, mengatakan, kemenangan NFA di sebagian besar daerah pemilihan membuktikan bahwa program kampanye NFA lebih diterima rakyat Libya. Menurut dia, program kampanye kubu Islamis dan liberalis tidak jauh berbeda, keduanya cenderung ke tengah. Program partai ataupun kandidat independen dalam pemilu Kongres Nasional Umum terfokus pada tiga isu, yaitu Islam, pembangunan, dan modernitas.

Mergani mengungkapkan, partai atau individu tak berlatar belakang Islamis juga mengampanyekan pentingnya peran Islam dalam kehidupan masyarakat ataupun negara di Libya. Partai atau kandidat yang ingin memenangi pemilu tak bisa mengabaikan peran Islam karena masyarakat Libya secara umum masih konservatif. Kesuksesan Mahmud Jibril, Ketua NFA, juga karena selalu menekankan pentingnya Syariah Islam sebagai sumber utama hukum di Libya.

Analis politik harian Asharq al Awsat, Ali Ibrahim, mengatakan bahwa keberhasilan kubu liberalis dalam pemilu Majelis Nasional karena kekuatan mainstream mampu bersatu di bawah payung NFA. Hal itu berbeda dengan kekuatan liberalis di Mesir dan Tunisia yang terpecah-pecah. NFA menghimpun 40 kekuatan politik di bawah payungnya.

Sebaliknya, kekuatan kubu Islamis terpecah-pecah di bawah JCP, Hizb al Watan pimpinan mantan ketua dewan militer Tripoli Abdel Hakim Belhaj, dan Hizb al Ummah al Wasat pimpinan Sami Saadi. Pengaruh partai di masyarakat Libya belum kuat karena mantan Pemimpin Libya Moammar Khadafy tidak mengizinkan tumbuhnya partai sama sekali.

(Musthafa Abd Rahman, dari Tripoli, Libya)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X