Kompas.com - 30/06/2012, 04:47 WIB
Penulis M Latief
|
EditorLatief

KHARTOUM, KOMPAS.com - Aparat keamanan Sudan, Jumat (29/6/2012), menggerebek kantor biro AFP di Khartoum dan menangkap seorang wartawan paruh waktu yang tengah mengambil gambar protes antipemerintah. Peristiwa ini menambah deretan panjang penangkapan jurnalis di negara yang tengah bergolak itu.

Dua agen dari Badan Keamanan dan Intelijen Nasional (NISS), seorang di antaranya memegang pistol, menangkap Talal Saad, seorang wartawan lokal yang baru saja memulai pekerjaannya sebagai koresponden sementara AFP, sekitar pukul 15.50 GMT atau sekitar pukul 22.50 WIB. Mereka menyatakan, wartawan itu akan kembali dalam waktu dua jam.

Penyerbuan itu berlangsung tak lama setelah Saad tiba di kantor AFP dengan membawa gambar yang diambilnya dari protes antipemerintah di Omdurman, kota kembaran Khartoum. NISS ternyata menolak mengizinkan koresponden AFP itu menelpon. Mereka bahkan mengancam akan menyita setiap komputer di biro itu, kecuali jika gambar tersebut dihapus. AFP pun memenuhi permintaan itu.

Saad adalah seorang wartawan Sudan yang bekerja untuk surat kabar lokal Al Tayar. Sebelum Saad, agen-agen Keamanan Nasional pekan lalu sudah lebih dulu menahan koresponden AFP, Simon Martelli, selama lebih dari 12 jam tanpa tuduhan. Simon ditangkap setelah ia berbicara dengan mahasiswa dan mengambil gambar di Universitas Khartoum, lokasi protes yang disulut oleh inflasi meletus dua pekan lalu.

Seorang warga Mesir yang bekerja sebagai koresponden Bloomberg, Salma El Wardany, juga dideportasi oleh Sudan, Selasa pekan lalu. Salma ditangkap ketika berusaha meliput gerakan protes yang meluas di negara itu.

Adapun hari ini adalah hari keempat belas protes antipemerintah berlangsung. Saksi mata menuturkan, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan ratusan demonstran di luar sebuah masjid partai oposisi.

Para pemrotes berkumpul di Lapangan Hijra di Khartoum, yaitu di samping masid partai oposisi Umma. Menurut saksi mata itu, demonstran membawa bendera Sudan dan spanduk yang betuliskan "Rakyat ingin rezim runtuh", sebuah slogan yang digunakan oleh pemrotes selama pemberontakan Musim Semi Arab yang mengarah pada kejatuhan pemerintah di sejumlah negara Arab.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah penembakan gas air mata dan penangkapan sejumlah orang, demonstran membakar ban dan melemparkan batu ke arah polisi, sebelum akhirnya berlarian mencari tempat berlindung. Demonstran memang merencanakan protes-protes besar pada Jumat dan Sabtu ini, yang merupakan peringatan tahun ke-23 kudeta yang dilakukan oleh Presiden Omar al-Bashir.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X