Inilah Kisah Pelacakan DNA Osama bin Laden

Kompas.com - 09/06/2012, 20:58 WIB
|
EditorMarcus Suprihadi

Afridi memasang poster-poster untuk iklan program vaksinasi yang dipajang di sekitar Abbottabat. Poster ini menyebutkan vaksinasi dibuat perusahaan Amson, perusahaan obat yang bermarkas di pinggiran Islamabad.

Pada Maret 2011, para petugas kesehatan menjalankan vaksinasi di kompleks miskin di sebuah pinggiran Abbottabad bernama Nawa Sher. Vaksin hepatitis B biasanya diberikan dalam tiga tahapan, masing-masing dengan selang sebulan. Namun pada April, ketimbang menjalankan vaksinasi tahap kedua di Nawa Sher, dokter kembali ke Abbottabad dan menugaskan para perawat ke Distrik Bilal, sebuah wilayah di pinggiran Abbottabat, tempat keluarga Osama bermukim.

Pejabat Pakistan sempat merasa aneh dengan kegiatan vaksinasi gratos di Bilal itu. "Distrik Bilal adalah hunian warga yang relatif mapan. Mengapa Anda emilih pemberian vaksin gratis di lokasi seperti itu? Dan apa perlunya seorang ahli bedah turun tangan soal vaksinasi di Abbottabad?" Begitu kecurigaan itu.

Meski demikian, para perawat toh  bisa mendapatkan contoh darah dari jarum yang dipakai untuk menyuntikkan vaksin. Seorang perawat bernama Bakhto, nama lengkap Mukhtar Bibi, berusaha memasuki rumah Osama untuk menjalankan vaksinasi.

Menurut beberapa sumber, Afridi menunggu di luar rumah. Namun perawat itu diminta membawa sebuah alat, tidak jelas alat apa itu. Mukhtar Bibi tidak berkomentar soal tugas yang pernah dia jalankan itu. Intelijen Pakistan baru sadar soal tugas yang dijalankan Afridi setelah melakukan penyelidikan pasca—penyerangan ke rumah Osama.

Penyelidikan itu didorong rasa penasaran warga Pakistan tentang  bagaimana AS bisa mengetahui persis keberadaan Osama di Abbottabat. Itulah yang kemudian menyebabkan dr Afiridi ditangkap. Setelah itu, sejumlah orang ditangkap karena kecurigaan terhadap program vaksinasi itu tetapi sampai sejauh ini baru Afridi yang masih dalam tahanan.

Afridi kini sudah dijatuhi hukuman 33 tahun penjara dengan tuduhan mengkhianati negara. Saat ini, AS melalui Menlu Hillary Clinton, sedang berusaha melepaskan Afridi dengan alasan dokter itu turut membantu perang melawan terorisme.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.