Mesin Pembunuh Canggih Paman Sam - Kompas.com

Mesin Pembunuh Canggih Paman Sam

Kompas.com - 09/06/2012, 08:11 WIB

KOMPAS.com — Serangan mesin perang tercanggih yang dimiliki Amerika Serikat, pesawat tak berawak yang dilengkapi berbagai senjata mematikan, populer disebut drones, kembali memakan korban. Kali ini korbannya komandan operasi tertinggi kedua organisasi teroris global Al Qaeda, Abu Yahya al-Libi, yang diklaim terbunuh dalam serangan drones di Pakistan.

Pihak Paman Sam mengklaim hal itu sebagai keberhasilan sekaligus hantaman terkeras bagi kekuatan Al Qaeda. Namun, kejadian tadi kembali memicu perdebatan soal penggunaan teknologi mesin perang canggih itu. Perdebatan muncul setelah salah seorang kerabat Al-Libi memprotesnya.

”Terlepas dari apa pun ideologi dan kepercayaan yang dianut saudara saya, dia tetap seorang manusia yang layak diperlakukan manusiawi. Cara AS membunuhnya sangat kejam dan tak berperikemanusiaan,” ujar Abu Bakr al-Qayed.

Al-Qayed berbicara per telepon dari kota Wadi Otba, yang terletak di selatan Tripoli, Libya, awal pekan ini. Dia menilai apa yang dilakukan AS kepada saudaranya bertentangan dengan klaim negeri itu sebagai ”jagoan” penegakan hak asasi manusia. ”Mereka (AS) bicara soal HAM dan kebebasan, tetapi metode yang mereka pakai untuk membunuh sangat biadab. Kita berada di abad ke-21 dan mereka mengklaim diri beradab, tetapi coba lihat cara mereka membunuh orang,” ujar Al-Qayed.

Penggunaan drones sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Presiden George W Bush. Intensitasnya memang meningkat di era Presiden Barack Obama. Awalnya drones hanya dipakai untuk misi mata-mata dan penginderaan jarak jauh dinas intelijen AS, CIA. Pesawat drones bisa diterbangkan 24 jam tanpa henti. Namun, sejak tahun 2002 drones dipersenjatai, mulai dari rudal Hellfire II dengan radius daya jangkau serangan delapan kilometer, atau bom jatuh (dropped bomb) macam Paveway II dan GBU-12.

Selama ini Pemerintah AS mengklaim tak ada aturan internasional yang dilanggar. Sebagai pesawat mata-mata, drones bisa memberi gambaran pantauan lengkap situasi lapangan, yang langsung dikirim via satelit ke pasukan darat AS. Penggunaannya juga diklaim mengurangi risiko kehilangan pilot pesawat tempur. Pesawat drones bisa diterbangkan dan dikendalikan dari jarak ribuan kilometer.

Dua jenis drones yang populer digunakan di Afganistan dan Pakistan, MQ-1B Predator dan MQ-9 Reaper, dikendalikan dan diterbangkan dari pangkalan udara Creech di Nevada, AS.

Namun, serangan drones selain untuk membunuh target juga kerap membunuh warga sipil. Salah satu serangan mematikan terjadi pada Maret 2011, ketika sebuah pertemuan antarsuku di Pakistan diserang dan 40 orang sipil terbunuh. Dari situ terlihat ada kemiripan antara kelompok teroris dan AS. Keduanya sama-sama membunuh warga sipil dengan mengatasnamakan kebenaran versi masing-masing. (BBC/REUTERS/DWA)


EditorKistyarini

Terkini Lainnya

Elektabilitas Masih Rendah, Golkar Yakin Bisa Bangkit Pasca Pilkada 2018

Elektabilitas Masih Rendah, Golkar Yakin Bisa Bangkit Pasca Pilkada 2018

Nasional
Seorang Kepala Dinas Konsumsi Sabu, Bupati Aceh Utara Akan Periksa Pejabat Lainnya

Seorang Kepala Dinas Konsumsi Sabu, Bupati Aceh Utara Akan Periksa Pejabat Lainnya

Regional
Berkali-kali Survei Tempatkan Prabowo Di Bawah Jokowi, Prabowo Tetap Tegar

Berkali-kali Survei Tempatkan Prabowo Di Bawah Jokowi, Prabowo Tetap Tegar

Nasional
Transfer Rp 1,2 Miliar secara Ilegal ke Sejumlah Rekening, 'Teller' Bank Ditangkap Polisi

Transfer Rp 1,2 Miliar secara Ilegal ke Sejumlah Rekening, "Teller" Bank Ditangkap Polisi

Regional
50 Tahun Merdeka, Swaziland Resmi Berganti Nama Jadi eSwatini

50 Tahun Merdeka, Swaziland Resmi Berganti Nama Jadi eSwatini

Internasional
Sekjen PKS dan Gerindra Bertemu, Bahas Kegiatan Teknis Perkuat Koalisi

Sekjen PKS dan Gerindra Bertemu, Bahas Kegiatan Teknis Perkuat Koalisi

Nasional
Tak Terima Diputus Pacar, Seorang ABG Lompat dari Jembatan Ampera

Tak Terima Diputus Pacar, Seorang ABG Lompat dari Jembatan Ampera

Regional
Survei Cyrus Network: Elektabilitas PDI-P Ungguli Parpol Peserta Pemilu Lain

Survei Cyrus Network: Elektabilitas PDI-P Ungguli Parpol Peserta Pemilu Lain

Nasional
Ikuti Tes Masuk Polisi, Empat Pemuda Kedapatan Curi Boneka

Ikuti Tes Masuk Polisi, Empat Pemuda Kedapatan Curi Boneka

Regional
Musim Hujan Tiba, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Khawatir Banjir

Musim Hujan Tiba, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Khawatir Banjir

Internasional
Di Kediri, Warga Miskin yang Sakit Tak Perlu Repot, Dokter Akan Datang ke Rumah

Di Kediri, Warga Miskin yang Sakit Tak Perlu Repot, Dokter Akan Datang ke Rumah

Regional
Presiden Uganda: Mulut untuk Makan, Bukan untuk Seks Oral

Presiden Uganda: Mulut untuk Makan, Bukan untuk Seks Oral

Internasional
Sandiaga Uno: Survei Gerindra Tunjukkan Mayoritas Masyarakat Ingin Pemerintahan Baru

Sandiaga Uno: Survei Gerindra Tunjukkan Mayoritas Masyarakat Ingin Pemerintahan Baru

Nasional
Tersangka Pemilik 57 Kg Merkuri Dapat Bahan Baku dari Pulau Seram

Tersangka Pemilik 57 Kg Merkuri Dapat Bahan Baku dari Pulau Seram

Regional
Kirim Dua F-16, Irak Lancarkan Serangan Udara ke Wilayah Suriah

Kirim Dua F-16, Irak Lancarkan Serangan Udara ke Wilayah Suriah

Internasional

Close Ads X