Dokter "Osama" Korup dan Doyan Perempuan

Kompas.com - 30/05/2012, 07:28 WIB
EditorEgidius Patnistik

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Shakeel Afridi, dokter yang membantu Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (CIA) menemukan jejak Osama bin Laden, dituduh terlibat korupsi, suka main perempuan, dan kejahatan lain oleh Pakistan, seperti diberitakan Reuters, Selasa (29/5). Kejahatan itu terjadi sebelum Afridi ditangkap intelijen Pakistan dan akhirnya dipenjara 33 tahun karena dituduh berkhianat, pekan lalu.

Pengadilan suku Khyber Pakistan pekan lalu memvonis Afridi dengan 33 tahun penjara. Afridi dituduh melakukan kampanye vaksinasi gadungan untuk membantu CIA mendapatkan sampel DNA dari Osama dan anggota keluarganya. Dengan itu CIA memastikan keberadaan pemimpin Al Qaeda itu di satu kompleks di Abbottabad.

Dalam wawancara akhir pekan lalu, beberapa pejabat dan mantan pejabat Pakistan menjelaskan, Afridi suka minum-minuman keras, suka main perempuan atau melakukan pelecehan seksual, dan terlibat kasus pencurian. Mereka mengatakan obsesi utama Afridi, seperti dituduhkan, adalah mendapatkan uang dengan cara yang mudah.

Dalam satu dokumen Kementerian Kesehatan Pakistan tahun 2002, Afridi dianggap korup, tidak dapat diandalkan, dan tidak layak menjadi petugas pemerintah.

Kampanye tentang buruknya perilaku Afridi ini bertentangan dengan pujian AS, yang menyanjung Afridi karena membantu CIA mengungkap keberadaan Osama dalam persembunyian.

AS beberapa kali mendesak Pakistan melepaskan Afridi. Washington mengecam Islamabad dengan menyebutkan hukuman Afridi ”tidak adil dan tidak beralasan”. Pakistan menolak, dan mengatakan AS harus menghormati peradilan Pakistan.

Tuduhan terbaru yang berkaitan dengan karakter Afridi, ditambah dengan penahanannya, hampir pasti akan menambah ketegangan hubungan AS-Pakistan. Kondisi itu akan memperburuk hubungan bilateral yang selama ini sudah tegang.

Hubungan AS-Pakistan mulai tegang sejak pasukan khusus AS mengeksekusi Osama pada Mei 2011 di Abbottabad. Marah oleh serangan sepihak AS ini, Islamabad menjadikan Afridi sebagai penjahat yang bersekongkol melawan negara. Ketegangan bertambah sejak lebih dari 24 tentara Pakistan tewas akibat serangan AS pada November lalu. Pakistan hingga kini juga belum membuka lagi jalur pasokan NATO ke Afganistan, yang ditutup sejak insiden November itu.

”Informasi yang ada menunjukkan Afridi adalah anggota yang dihormati dalam komunitas petugas kesehatan di Pakistan,” kata seorang pejabat senior AS di Washington, Senin. ”Kami menyadari upaya untuk merendahkan karakternya, yang mencuat sejak penangkapan Afridi.”

Dutch Ruppersberger, anggota Komite Intelijen DPR AS dari kubu Demokrat, dalam wawancara dengan VOA menyatakan keprihatinan atas penahanan Afridi. Dia mengatakan, Afridi dapat saja meninggalkan Pakistan sebelum ditangkap, tetapi dia memilih tetap tinggal di sana karena dia seorang patriotik.

Jamil, adik kandung Afridi, mengatakan kepada wartawan di Peshawar, kakaknya tidak disidangkan secara adil. Afridi akan mengajukan banding atas vonisnya. Dia juga mengatakan, kakaknya bukan tipe pengkhianat. Kata Jamil, politisi Pakistan menjadikan kakaknya itu sebagai ”kambing hitam”. Dia mengimbau ketua mahkamah agung memfasilitasi proses banding kakaknya itu. (REUTERS/AP/CAL)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.