Kesaksian Para Korban Pembantaian di Suriah

Kompas.com - 29/05/2012, 08:32 WIB
EditorEgidius Patnistik

"Saya buka pintu, dan saya banyak melihat jenazah, saya tidak bisa mengenali anak-anak saudara lelaki saya. Tidak bisa digambarkan. Saya punya tiga anak, saya kehilangan tiga anak,'' katanya.

Saksi mata lainnya menceritakan bagaimana mereka ketakutan jika pasukan rezim kembali ke kawasan tersebut.

Jumlah korban tewas tidak diketahui secara pasti, tetapi wartawan BBC di Lebanon mengatakan jumlah kemungkinan bertambah dari keterangan saksi dan laporan dari pemerhati HAM di lapangan.

'Kebodohan pembunuhan'

Sejumlah pemimpin Barat mengungkapkan kecaman atas pembunuhan tersebut, dan Inggris, Perancis serta AS kini mulai meningkatkan kebijakan diplomatik untuk menekan pemerintahan Assad.  Menteri Luar Negeri Inggris William Hague terbang ke Moskwa untuk mendapatkan dukungan Rusia untuk mendukung kebijakan yang lebih keras terhadap rezim.

Rusia, dua kali memblokir resolusi Dewan Keamanan PBB yang dikeluarkan untuk mendukung aksi terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad, tetappi pada hari Senin menyatakan kedua belah pihak bertanggung jawab dalam insiden pembantaian Jumat lalu.

Sementara Perancis menggelar pertemuan yang disebut 'Teman untuk Suriah', dimana Rusia tidak ikut ambil bagian.

"Kebodohan pembunuhan yang dilakukan rezim Damaskus merupakan sebuah ancaman bagi keamanan kawasan dan para pemimpinnya harus menjawab semua tindakan mereka,'' demikian isi pernyataan Presiden Francois Hollande.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara itu utusan khusus PBB-Liga Arab Kofi Annan telah tiba di Damaskus untuk membicarakan rencana perdamaian dengan Assad, Selasa (29/05).

Dia mengatakan ini adalah waktu yang kritis, dan dia akan menjalani diskusi yang ''serius dan jujur'' dengan Assad, mencoba mendorong dia untuk mengambil ''langkah tegas'' untuk membuktikan bahwa dia serius tentang perdamaian.

Dalam rencana perdamaian Annan, kedua belah pihak sebenarnya bersepakat untuk menghentikan pertempuran pada tanggal 12 April lalu menjelang pengerahan pengawas dan pemerintah harus menarik tank dan pasukan dari kawasan sipil.

Tetapi kekerasan masih berlanjut, dan Senin kemarin pemerhati HAM melaporkan pertempuran dan kematian berlangsung setidaknya di tujuh kawasan berbeda.

Setidaknya 10.000 orang tewas sejak aksi menolak rezim Assad pecah Maret 2011.

Halaman:
Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.