90 Tewas, DK PBB Didesak Segera Beraksi

Kompas.com - 27/05/2012, 02:48 WIB
Editor

Potongan gambar yang diunggah aktivis oposisi di Youtube juga disiarkan oleh televisi pemerintah. Namun, keterangan yang menyertai menyebut mereka adalah korban dari pembunuhan yang dilakukan oleh ”kelompok teroris”.

Pemerintah Suriah selalu beralasan, bentrokan dan kontak senjata yang terjadi selama 14 bulan terakhir antara pasukan pemerintah dan oposisi sebagai konspirasi teroris yang dilakukan pihak luar. Tuduhan ini didasarkan pada seruan pemimpin negara-negara Teluk—yang didominasi kelompok Sunni—untuk mempersenjatai kelompok mayoritas Sunni di Suriah guna melawan rezim Presiden Bashar al-Assad yang berasal dari kelompok minoritas Alawite. 

Terbesar

Insiden di Houla menjadi pukulan terbesar bagi solusi damai PBB yang dicetuskan utusan khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan. Di antara poin dalam solusi damai itu adalah penghentian kekerasan dan gencatan senjata, yang seharusnya berlangsung mulai 12 April.

Namun, kekerasan belum berhasil dihentikan. Gencatan senjata tak berhasil diwujudkan dan PBB mencatat korban tewas telah melebihi 10.000 orang. Jumlah korban yang jatuh dalam peristiwa terakhir di Houla, jika berhasil diverifikasi, juga menjadi yang terbanyak sejak tim pemantau PBB diterjunkan mengawasi gencatan senjata.

Pada Sabtu petang, beberapa anggota tim pemantau PBB tiba di Houla untuk melihat keadaan sesungguhnya. Mereka mendatangi Desa Taldau ”untuk mendokumentasikan tindakan kriminal yang terjadi dalam 24 jam terakhir yang melanggar gencatan senjata,” menurut Pemantau HAM Suriah. Lembaga itu menambahkan, ledakan dan letusan senjata masih terdengar saat tim pemantau tiba di sana.

Kegagalan PBB memaksakan gencatan senjata mengundang protes massa. Di Kfarnabel, Provinsi Idlib, puluhan orang turun ke jalan sebagai reaksi atas insiden di Houla. Mereka marah dengan komunitas internasional yang membiarkan kerusuhan di Suriah terus terjadi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seorang pengunjuk rasa membawa poster bertuliskan ”(Kofi) Annan bertanggung jawab atas pembantaian di Houla”.

Dari Paris, Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius mendesak semua pihak segera menjalankan solusi damai Annan. Perancis juga meminta pertemuan kelompok Sahabat Suriah. Fabius menyebut insiden di Houla sebagai ”pembantaian” dan meminta pertemuan dengan Annan, Minggu.

”Tim pemantau PBB harus bisa menjalankan misinya. Usulan solusi damai dari utusan khusus PBB dan Liga Arab harus segera dilaksanakan,” kata Fabius. Adapun pertemuan Sahabat Suriah, negara-negara yang mendesak Presiden Assad mundur, akan dilakukan di Paris dalam waktu dekat. (AP/AFP/reuters/was)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.