Suu Kyi Terima Paspor

Kompas.com - 09/05/2012, 08:16 WIB
EditorEgidius Patnistik

YANGON, KOMPAS.com - Pejuang demokrasi karismatik Myanmar, Aung San Suu Kyi, akhirnya menerima paspor, yang menjadi paspor pertamanya dalam 24 tahun. Paspor itu diberikan menyusul rencana lawatan Suu Kyi ke beberapa negara.

Kepastian tersebut disampaikan juru bicara partai oposisi yang dipimpin Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), Nyan Win, Selasa (8/5). Menurut Nyan Win, paspor untuk Suu Kyi telah diserahkan Kementerian Dalam Negeri Myanmar.

”Kami dikabari Jumat pekan lalu kalau Daw (sebutan penghormatan untuk perempuan) Suu Kyi akan mendapat paspor. Sekarang paspor itu sudah ada di tangannya,” ujar Nyan Win.

Sebelumnya dikabarkan Suu Kyi akan melawat ke sejumlah negara untuk memenuhi undangan mulai pertengahan Juni. Salah satu kunjungan terpentingnya adalah menyampaikan pidato resmi penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia.

Penghargaan prestisius itu dianugerahkan kepada Suu Kyi pada tahun 1991. Namun, ia tidak bisa menerima secara langsung di Oslo karena saat itu berstatus tahanan rumah. Kehadiran Suu Kyi akhirnya diwakili oleh suaminya, akademisi Inggris Michael Aris, yang menerima penghargaan itu atas nama istrinya.

Rezim pemerintahan junta militer memenjarakan Suu Kyi di dalam rumahnya sendiri untuk meredam perjuangan putra pahlawan nasional Myanmar, Jenderal Aung San, itu.

Suu Kyi kehilangan paspornya ketika pertama kali kembali ke Myanmar pada tahun 1988. Dia pulang untuk merawat mendiang ibunya yang sakit keras. Saat tiba di Rangon, nama lama Yangon, ibu kota Myanmar, dia diharuskan menyerahkan paspor tersebut kepada otoritas setempat.

Sebelum pulang ke Myanmar, Suu Kyi bersekolah dan kemudian menetap di Inggris. Dia menikah dengan Aris, mantan dosennya di Universitas Oxford, Inggris, dan dikaruniai dua anak, Alexander dan Kim.

Karena tak memiliki paspor, Suu Kyi bahkan tidak dapat menemani mendiang suaminya di saat terakhir. Aris meninggal dunia tahun 1999 karena menderita kanker.

Pertemuan terakhir Suu Kyi dengan suaminya terjadi pada tahun 1995. Setelah itu, Suu Kyi tidak dapat lagi menemui suaminya karena junta militer Myanmar menolak memberi visa kepada Aris.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X