Derita Nelayan Gaza akibat Mesir Batasi Pasokan BBM

Kompas.com - 29/04/2012, 14:56 WIB
EditorKistyarini

KOMPAS.com - Mahmoud al-Issi, nelayan Jalur Gaza yang berusia 60 tahun, sekali ini gagal menangkap cukup ikan seperti biasa dengan menggunakan perahu kecilnya pada musim penangkapan ikan tahun ini. Nasib buruknya berpangkal dari krisis parah bahan bakar, yang telah berlangsung selama berbulan-bulan di Jalur Gaza.

Al-Issi dan delapan anaknya setiap hari telah pergi ke pelabuhan kecil nelayan di pinggir Kota Gaza, berharap memperoleh cukup bahan bakar untuk menghidupkan mesin perahunya dan berlayar ke laut Gaza agar bisa menangkap cukup banyak ikan untuk dijual sehingga ia bisa membayar utang yang membebaninya.

"Kami sanggup menghadapi gangguan dan pembatasan ketat Angkatan Laut Israel, yang memburu dan menembaki kami di tengah laut sepanjang waktu," kata ayah delapan anak tersebut.

"Kami dapat memikul semua kesulitan ini, terutama pembatasan daerah penangkapan ikan kami dari 37 kilometer jadi lima kilometer," kata al-Issi kepada Xinhua,. Ia menambahkan, "Saat ini setiap tahun, kami dulu biasa menangkap sangat banyak ikan, terutama sardine."

Sekarang, di tengah krisis kekurangan bahan bakar parah yang berlangsung di Jalur Gaza, kebanyakan nelayan telah jadi pengangguran akibat. Kekurangan bahan bakar memotong satu-satunya cara mereka memperoleh uang.

"Di mana saja di seluruh dunia, lautan terbuka buat nelayan kecuali di Jalur Gaza. Terakhir kali saya berlayar naik perahu saya 10 hari lalu, kemudian saya tak bisa memperoleh bahan bakar," kata al-Issi. "Sebelum krisis bahan bakar, saya biasa pergi menangkap ikan selama 22 hari per bulan, sekarang saya cuma bisa pergi menangkap ikan empat kali per bulan."

Hamas, yang memerintah Jalur Gaza sejak Juni 2007, telah memutuskan untuk menanggung beban bahan bakar yang diselundupkan dari Mesir melalui saluran di bawah perbatasan dengan Jalur Gaza, untuk sebanyak 1.000 perahu nelayan. Namun nelayan mengeluh itu tidak cukup.

Krisis bahan bakar di Jalur Gaza mulai terjadi pada Desember tahun lalu, ketika jumlah bahan bakar yang diselundupkan dari Mesir merosot tajam. Krisis tersebut mencapai puncaknya belakangan ini, setelah semua stasiun pompa bahan bakar di daerah kantung pantai itu kehabisan bahan bakar selundupan dan cuma menjual bahan bakar Israel yang mahal.

Para pejabat di Jalur Gaza mengatakan krisis tersebut adalah akibat dari pembatasan pemerintah Mesir yang diberlakukannya atas bahan bakar selundupan ke Jalur Gaza. Mesir meminta Hamas di Jalur Gaza untuk secara resmi membeli bahan bakar sesuai dengan harga internasionalnya, tapi pemerintah Hamas menolak.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X