Pekerja Migran Indonesia Bergaji Rp 1 Miliar Per Tahun

Kompas.com - 11/04/2012, 07:05 WIB
|
EditorRobert Adhi Ksp

ADELAIDE, KOMPAS.com - Belasan warga Indonesia sekarang ikut menikmati boom di bidang pertambangan di Australia.  Kurangnya tenaga ahli dan juga banyaknya lapangan pekerjaan membuat mereka meninggalkan pekerjaan yang sama di Indonesia.

Di salah satu perusahaan tambang Oz Minerals, saat ini terdapat sedikitnya tujuh WNI, ada yang sudah datang empat tahun lalu, ada juga yang baru beberapa pekan yang lalu. Hampir semua dari mereka tinggal di Adelaide, dan sementara lokasi pertambangan berjarak 650 kilometer ke arah Darwin.

Di perusahaan minyak Santos juga terdapat 7 WNI yang bekerja di Adelaide saja.  Kondisi kerja yang lebih baik dan tentu saja, gaji yang lebih besar menjadi daya tarik utama.  

Bagi warga Australia saja, boom mineral ini juga menyebabkan banyak orang memutuskan pindah pekerjaan dan lokasi, karena tawaran gaji yang lebih baik. Dengan rata-rata gaji di Australia sekitar 65 ribu dollar per tahun,  di pertambangan, gaji seorang supir truk misalnya bisa mencapai 120 ribu dollar per tahun (lebih dari Rp 1,2 miliar).

Dengan kemajuan teknologi, kepindahan mereka ke Australia tidaklah susah. "Saya mencari kerja lewat internet. Dulu saya lihat ada lowongan kerja di seek.com, saya hubungi mereka, lalu diwawancarai lewat telepon dan skype, lalu diterima." kata Nur Muhamad yang sudah bekerja di Oz Minerals sejak tahun 2009 kepada koresponden Kompas di Australia,  L. Sastra Wijaya.

Nur sebelumnya bekerja di pertambangan Newmont di Nusa Tenggara Barat, selama hampir 10 tahun dan kemudian pindah ke Laos selama enam bulan. "Di Laos, saya tidak kerasan, karena lokasinya jauh dari kota, empat jam perjalanan darat." tambah Nur.

Di Oz Minerals, Nur sekarang tiap minggu terbang dari Adelaide ke Prominent Hill, lokasi pertambangan menggunakan pesawat charteran.  "Saya bekerja sebagai processed engineer, bertanggung jawab di bagian produksi. Di sini, sistem kerjanya adalah 8/6, delapan hari kerja, enam hari libur," ujar bapak dari dua anak tersebut.

"Saya beruntung ketika pindah dulu, Oz Minerals memerlukan orang yang sudah berpengalaman beberapa tahun. Ketika itu, Australia memang kekurangan  karyawan yang berpengalaman ketika boom mineral mulai lagi karena besarnya permintaan dari Cina." kata lulusan D3 Politeknik Negeri Bandung tersebut.

Kalau Nur Muhamad sudah hampir lima tahun, Asep Wahyudin, sarjana geologi dari Universitas Padjadjaran Bandung baru empat bulan sampai di Adelaide. "Saya dapat informasi dari istri teman, jadi dari mulut ke mulutlah.

Prosesnya juga tidak terlalu lama, karena memang mereka butuh orang di sini." kata Asep yang juga bekerja di Oz Minerals. Sebelumnya Asep bekerja di pertambangan Newcrest di Pulau Halmahera. Pertambangan itu juga dimiliki oleh Australia, sehingga proses kepindahan tidaklah sangat mengejutkan dari segi pekerjaan maupun budaya.

"Di sini sistem kerjanya lebih baik, orang dilihat berdasarkan kemampuan kerja. Kalau di Indonesia, kalau mereka bule atau expat, maka dianggap luar biasa hebat. Di sini, lebih setara," kata Asep yang bekerja di bagian geoteknik, dengan tugas mendesain platform untuk melakukan penggalian di bawah tanah. Oz Minerals memproduksi tembaga, emas dan perak.

Berapa gaji mereka di Australia?  "Sekitar 150 ribu dollar per tahun sebelum pajak." kata Nur Muhamad.   



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X