Situs Porno Kian Mengkhawatirkan

Kompas.com - 16/03/2012, 02:35 WIB
Editor

”Apakah kita rela jika tahun ini peringkat Indonesia naik menjadi yang pertama? Ini bukan perkara mudah. Kami tidak dapat bekerja sendiri, kami perlu mitra kerja,” kata Freddy Tulung, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kamis, dalam seminar bertajuk ”Online Child Pornography” di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat.

Freddy memaparkan fakta bahwa jumlah pengguna internet sampai tahun 2011 meningkat lebih dari 1.000 persen dibandingkan dengan data tahun 1988 sebanyak 500.000 orang. Sementara 40 persen pengguna internet saat ini berusia 15-24 tahun. Sebanyak 94 persen di antaranya menggunakan media sosial.

Menurut dia, pengguna internet di Indonesia sedang mengalami masa kebanjiran informasi dari banyak sumber. Pada saat yang sama, tidak semua pengguna internet mengetahui informasi tersebut baik atau buruk.

Meski sudah memblokir ribuan situs porno, pornografi masih saja dapat dinikmati penggunanya. Hal ini terjadi karena tampilan situs porno mengalami perubahan. Jika sebelumnya situs porno muncul dengan kata kunci yang berbau porno, kini situs tersebut muncul dengan kata-kata yang jauh dari pengertian porno.

Dia menyampaikan, ada sepuluh kata kunci yang paling sering dipakai untuk mengakses situs porno di Indonesia. Sepuluh kata populer ini sesuai dengan data yang tampil di mesin pencari Google tahun 2012.

Bisnis dunia

Pornografi kini menjadi bisnis dunia yang menguntungkan secara ekonomi, tetapi minim risiko. Guru Besar Kriminologi UI Adrianus Meliala mengatakan, nilai bisnis ini paling tidak mencapai 4.000 miliar dollar AS per tahun. Jumlah ini melebihi nilai bisnis narkoba dan senjata.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Suburnya potensi bisnis pornografi dipicu oleh pengguna internet pemula. Mereka lebih banyak ingin mencari tahu situs-situs yang mengundang rasa ingin tahu. Selanjutnya, ada yang ketagihan dan ada yang sesekali saja melihat situs tersebut.

Adrianus menambahkan, tahun 2008, jumlah anak yang tertayang sebagai subyek dan obyek situs porno sebanyak 4.000 orang. Namun, tahun 2011, jumlahnya meningkat empat kali lipat menjadi 16.000 orang. Dia mengingatkan, dampak bisnis ini dapat menghancurkan masa depan bangsa. Jika sejak awal moral anak-anak sudah rusak, selanjutnya mereka akan menjadi beban hidup masyarakat. (nel/NDY)

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X