Pakistan Buat Pesawat Mata-mata

Kompas.com - 14/02/2012, 15:59 WIB
EditorKistyarini

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Kepala Angkatan Udara Pakistan Marsekal Udara Rao Qamar Sulema,  Senin (13/2/2012), mengatakan Pakistan sedang membuat pesawat mata-mata sendiri dan akan segera bisa menyiapkan pesawat tanpa pilot itu dilengkapi dengan teknologi rudal, kata media lokal.

Berbicara dengan wartawan di Pangkalan Shehbaz di provinsi selatan Sindh, ia mengatakan Pakistan kini sedang membuat pesawat tak berawak (UAV drone) di Kompleks Kedirgantaraan Pakistan di Kota Kamra dekat Islamabad, kata TV Geo.

Ditanya apakah pesawat F-16 yang Pakistan baru-baru ini terima dari Amerika Serikat bisa menjatuhkan pesawat tak berawak Amerika, Suleman mengatakan bahwa Angkatan Udara Pakistan tidak menginginkan situasi seperti itu.

Media dibawa ke Pangkalan Udara Shehbaz untuk secara resmi mengumumkan pangkalan udara kini di bawah kendali penuh Angkatan Udara Pakistan.

Amerika Serikat, yang menggunakan pangkalan udara untuk serangan pesawat tak berawak di Afghanistan dan mungkin di Pakistan, diperintahkan untuk mengosongkan pangkalan itu oleh Pakistan pascaserangan 26 November NATO terhadap pos-pos Pakistan, yang telah menewaskan 24 tentara.

Pemimpin Angkatan Udara mengatakan bahwa 14 F-16 bekas diberikan secara cuma-cuma kepada Pakistan oleh Amerika Serikat sementara 18 lainnya telah dibeli.

Panglima Militer Jenderal Ashfaq Parvez Kayani mengatakan pada kesempatan itu bahwa parlemen berhak untuk memutuskan dimulainya kembali pasokan NATO.

Dia mengatakan bahwa keputusan akhir tentang apakah pasokan untuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) akan diizinkan melewati Pakistan untuk pasukan di Afghanistan akan dilakukan oleh Komite Keamanan Nasional Parlemen.

Panglima Angkatan Bersenjata mengatakan bahwa Pakistan dan Amerika Serikat bekerja sama mengenai operasi pertahanan dan para pejabat Pakistan memberi kepercayaan kapan daerah-daerah perbatasan akan diserang.

Berbicara tentang Dana Dukungan Koalisi, yang dibentuk oleh Kongres Amerika Serikat setelah 11 September 2001, adalah untuk mengganti biaya serangan-serangan sekutu dalam mendukung perang pimpinan AS terhadap kelompok garis keras, kata Jenderal Kayani.Dia mengatakan bahwa Pakistan belum menerima 1,5 miliar dolar AS dari Amerika Serikat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.