Di Ambang Kejatuhan Bashar al Assad

Kompas.com - 01/02/2012, 15:54 WIB
EditorEgidius Patnistik

Ketika Bashar al-Assad menggantikan ayahnya, Hafez Assad tahun 2000, ada janji tentang Suriah yang lebih modern dan demokratis. Dalam pidato pelantikannya, al-Assad mengindikasikan, ia akan menjadi pemimpin yang berbeda dari ayahnya. "Saya akan mencoba yang terbaik untuk memimpin negara kita menuju masa depan yang memenuhi harapan dan ambisi sah rakyat kita," katanya.

Untuk sementara janji itu tersimpan. Situs resminya mengatakan, ia telah membangun zona perdagangan bebas, menginzinkan lebih banyak koran swasta dan universitas swasta, dan berjuang mengatasi korupsi dan pemborosan pemerintah. Ia juga bekerja bagi reformasi sosial dan ekonomi.

Namun, walau ada sejumlah perubahan dalam pemerintahannya, banyak orang mengatakan janji al-Assad sebagian besar tidak terwujud.

Human Rights Watch menyebut periode kepresidennya sebagai "dekade yang terbuang" di mana media tetap dikuasai negara, internet dimonitor dan disensor, dan penjara masih dipenuhi para pembangkang.

Dua mantan orang dalam rezim itu - yang sekarang menjadi penentang - mengingat masa saat mereka bersama al-Assad masih muda. Mantan Wakil Presiden Abdel Halim Khaddam mengatakan, Bashar sering menjadi korban kekejaman kakaknya. "Saudaranya, Basil, mengganggu dia saat kanak-kanak. Ayahnya tidak pernah memberinya perhatian sebanyak kepada Basil," kata Khaddam.

Rifaat, paman al-Assad sendiri, yang meninggalkan Suriah tahun 1984 setelah terlibat dalam kudeta yang gagal, juga berkomentar tentang al Assad. "Dia sangat berbeda dari ayahnya. Hafez seorang pemimpin, kepala seluruh rezim, sedangkan Bashar tidak pernah mendekati itu dan tidak pernah masuk dalam kerangka itu. Dia dianggap sebagai pemimpin tetapi ia mengikuti apa yang rezim putuskan atas namanya."

Al-Assad sendiri mengatakan, reformasi tersendat karena kerusuhan di negara-negara tetangga, Lebanon dan Irak. Dia mengatakan kepada harian Wall Street Journal tahun lalu, "Ada banyak hal yang ingin kami lakukan pada tahun 2005, kami berencana untuk lakukan itu tahun 2012, tujuh tahun kemudian."

Namun Abdel Halim Khaddam, yang pernah jadi wakil presiden baik untuk Bashar maupun ayahnya, mengatakan, al-Assad muda itu brutal dan tidak tegas. "Masalah Bashar adalah ia mendengarkan semua orang tapi kemudian membantah dan melupakannya dengan cepat. Anda mendiskusikan satu masalah dengan dia di pagi hari lalu orang lain datang dan mengubah pikirannya. Secara politis, Bashar tidak memiliki ideologi yang konsisten. Ia mengubah pendapatnya sesuai kepentingannya."

Rezim Suriah juga merupakan urusan keluarga. Adik al-Assad, Maher, memimpin sebuah divisi elite tentara, dan dituduh melakukan pelanggaran hak asasi manusia secara luas. Sepupunya, Rami Makhlouf, orang terkaya di Suriah.

Keluarga Assad berasal dari minoritas Alawi Suriah, yang menurut Rifaat, sang paman, didorong oleh ketakutan bahwa mereka bisa dikuasai. "Tidak ada keraguan bahwa Alawi merupakan minoritas yang berada dalam ketakutan dan mereka didorong oleh faktor ketakutan," kata Rifaat.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.