China Hukum Seumur Hidup Warga Uighur

Kompas.com - 27/01/2012, 17:36 WIB
|
EditorJosephus Primus
BEIJING, KOMPAS.com - China, Jumat (27/1/2012) menghukum penjara seumur hidup dua warga Uighur Muslim yang dideportasi dari Kamboja. Kebijakan ini menunjukkan tidak ada tanda-tanda Beijing melepaskan kekuasaannya atas wilayah Otonomi Uighur Xinjiang yang kaya minyak dan gas.
    
Hukuman-hukuman itu-- bentrokan-bentrokan yang menelan korban jiwa pekan ini antara polisi di Sichuan dan etnik Tibet -- terjadi pada saat yang rawan bagi China untuk menjamin stabilitas menjelang transisi kepemimpinan akhir tahun ini adalah satu prioritas penting.
    
Bentrokan itu juga terjadi menjelang kunjungan Wakil Presiden Xi Jinping, yang dianggap sebagai calon pemimpin China mendatang  ke Amerika Serikat yang mungkin akan mendapat kecaman dalam menangani kerusuhan itu.
    
Kamboja, yang banyak menerima investasi China dan perdagangan, dikecam keras oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia karena mendeportasi para pencari suaka itu.
    
Dua hari setelah Kamboja mendeportasi Uighur Muslim itu  Desember 2009, Wakil Presiden China Xi mengunjungi Phnom Penh dan menandatangani 14 perjanjian perdagangan senilai 850 juta dollar AS.
    
Radio Free Asia (RFA) yang dibiayai AS pada layanan berita dalam jaringan yang mengutip pernyataan sumber-sumber keluarga dan pihak berwenang lokal di Xinjiang mengatakan tidak jelas kapan hukuman itu dijatuhkan dan tuduhan terhadap mereka.
    
Dua warga Uighur itu termasuk di antara satu kelompok 20 orang yang mencari suaka di Kamboja setelah kerusuhan etnik antara Uighur dan etnik Han China di ibu kota Urumqi, Xinjang  Juli 2009.
    
Satu orang lain dari kelompok itu dihukum 17 tahun penjara, kata RFA sembari menambahkan  masa hukuman dari mereka yang lain tidak diketahui karena sidang pengadilan diselenggarakan secara rahasia.
    
"Pemenjaraan orang-orang ini, yang secara paksa dideportasi dari satu tempat mereka mengungsi, harus menggugah imbaua dunia atas perlakuan kejam yang menanti bagi anggota etnik Uighur yang mencari suaka dan dipulangkan kembali ke China," kata ketua Asosiasi Uighur Amerika Alim Seytoff dalam satu pernyataan yang dikirimkan pada laman internet kelompok advokasi itu.
    
"Para anggota Uighur di Kamboja kembali menghadapi penindasan yang sangat keras yang mereka usaha untuk hindari. Kami tidak dapat menerima perlakuan pemerintah China terhadap para anggota Uighur yang mencari suaka di negara-negara lain," kata RFA.
    
RFA , mengutip  kelompok-kelompok hak asasi manusia, mengatakan para pencari suaka  berusaha menghindari hukuman karena mereka menyaksikan pasukan keamanan China dan menggunakan kekuatan yang mematikan terhadap para demonstran Uighur dalam kerusuhan yang menewaskan 200 orang, banyak di antara mereka etnik Han China.
    
Banyak warga Uighur Muslim yang berbahasa Turki tinggal di Xinjiang, kini dikuasai China dan mengawasi agama mereka, kebudayaan, dan bahasa.
    
Pada September, China mengatakan pihaknya menghukum mati empat orang karena melakukan aksi kekerasan di dua kota Xinjiang  musim panas lalu yang menewaskan 32 orang.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.