Keturunan Indo-Belanda Giliran Menggugat

Kompas.com - 17/01/2012, 16:13 WIB
EditorTri Wahono

AMSTERDAM, KOMPAS.com - Sejumlah orang keturunan Indo-Belanda mengungkapkan kekesalannya atas sikap Pemerintah Belanda yang meminta maaf dan memberikan ganti rugi kepada janda korban pembantaian di Rawagede. Menurut mereka, Indonesia juga harus melakukan permintaan maaf yang sama karena kekerasan juga dialami kakek buyut mereka. 

"Sekarang giliran Indonesia minta maaf atas kekerasan pada zaman Bersiap. Kakek saya seorang Indo Belanda menceritakan kekejaman para pemudamembunuh para korban kamp interniran dengan bambu runcing dan klewang, tangan dan kaki dipotong dan dibuang ke kali," demikian seorang penulis di situs web kelompok Indo Belanda seperti dikutip situs Radio Netherland Wereldomroep (RNW), Selasa (17/1/2012).

Buku sejarah Belanda mencatat kekerasan oleh berbagai kelompok pemuda radikal terhadap warga Indo Belanda sebagai zaman Bersiap. Tidak banyak orang di Belanda tahu zaman Bersiap ini. David Barnouw, sejarawan Lembaga Dokumentasi Perang Belanda NIOD, menjelaskan yang dimaksud dengan Bersiap adalah periode sekitar 17 Agustus 1945 sampai awal 1946.

"Periode penuh kekerasan, tidak ada yang berkuasa, kelompok-kelompok para-militer, para kriminal membunuh orang Indo Belanda dan China. Orang Belanda totok masih aman di kamp interniran," kata David Barnouw.

Diskusi seputar kekerasan yang terjadi pada zaman perang kemerdekaan lebih dari setengah abad lalu tidak saja dilakukan di situs web. Koran Belanda Trouw dan NRC Handelsblad memuat surat pembaca yang meminta perhatian untuk apa yang dialami kalangan Indo Belanda setelah Jepang takluk.

Sejarawan Universitas Negeri Malang, Hariyono yang meneliti periode sejarah Indonesia ini menjelaskan, konteks yang harus dipahami untuk menejlaskan kekerasan di zaman Bersiap dengan insiden Rawagede. Harus dilihat siapa yang membunuh, tentara yang terlatih oleh pemerintah, atau para gerilyawan yang belum terkendali dan terorganisir oleh pemerintah RI. Pada peristiwa zaman Bersiap, rakyat melampiaskan kekecewaannya sekaligus kemarahannya, ketika menghadapi pasukan Belanda maupun orang-orang Indo Belanda dengan melakukan kekerasan.

Hariyono menyamakan kekerasan massal ini dengan kekerasan setelah reformasi pada tahun 1998, rakyat yang kurang terdidik kemudian mengadakan aksi anarkis. Inilah konteks budaya dan politik yang juga terjadi pada awal revolusi kemerdekaan Indonesia terhadap kalangan Indo Belanda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

David Barnouw, sejarawan NIOD, Lembaga Dokumentasi Perang Belanda, menolak persamaan Rawagede dengan zaman Bersiap. Dalam kasus Rawagede jelas siapa pelakunya, sekelompok tentara Belanda di bawah pimpinan seorang mayor. Kemudian susah juga menuntut maaf dari Indonesia untuk zaman Bersiap, karena pada gilirannya Indonesia akan menuntut minta maaf juga, berlanjut sampai kapan?

"Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC yang membantai rakyat Banda, apakah pemerintah Belanda harus minta maaf juga?" ujar David Barnouw.



25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X