Ketika ASEAN "Dijual" sebagai Destinasi Tunggal

Kompas.com - 11/01/2012, 10:17 WIB
|
EditorInggried Dwi Wedhaswary

MANADO, KOMPAS.com - Peningkatan kualitas pariwisata di ASEAN menjadi salah satu materi yang akan dibahas dalam pertemuan para menteri dalam ASEAN Tourism Forum (ATF), Rabu (11/1/2012), yang tengah berlangsung di Manado. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan, peningkatan itu menyangkut kualitas standar pelayanan dan sumber daya manusia, diversifikasi produk dan autentik produk, serta peningkatan tipe produk pariwisata.

“Dibahas juga creative travel. Bisa juga wisata tematik, ada juga yang berkaitan dengan kreatif. Kalau tematik misalnya cruise. Ini yang kita kembangkan. Saat cruise berkunjung, bisa ke beberapa tempat. Misalnya, mulai dari Thailand, Malaysia, lalu ke Indonesia. Bisa digabung beberapa destinasi,” jelas Mari, di Grand Kawanua Convention Centre, Manado, hari ini.

Tipe wisata lainnya yang akan dikembangkan di ASEAN sebagai sebagai sebuah destinasi wisata, lanjut Mari, adalah health and spa tourism (wisata kesehatan dan spa), community based tourism (wisata berbasis komunitas), cultural tourism (wisata budaya), dan ecotourism (ekowisata). Sementara itu, untuk wisata kreatif, misalnya, pertunjukan seni, galeri, mau pun museum.

“Jadi kita desain tur berkaitan dengan produk ini, karena banyak yang bisa ditawarkan. Juga pariwisata yang event driven (didorong oleh terselenggaranya suatu event) misalnya Java Jazz, itu bisa kita tawarkan sebagai creative tourism,” ujarnya.

Mari menambahkan, ke depannya, pasar yang akan disasar ASEAN adalah India dan China. Oleh karena itu, lanjut Mari, pentingnya keberagaman pasar untuk mendatangkan turis-turis berpotensial. Menurutnya, untuk dapat “menjual” ASEAN sebagai destinasi tunggal, maka diperlukan beberapa kebijakan.

“Seperi free visa ASEAN (bebas visa antar negara ASEAN). Tahun lalu, kepala-kepala negara sudah komit ini harus diselesaikan. Kalau tidak salah, tinggal Myanmar dan Kamboja yang belum bebas dan akan diselesaikan tahun ini,” jelas Mari.

Selain itu, ASEAN juga tengah mengembangkan ASEAN Common visa atau visa tunggal dengan sistem seperti visa Schengen yang berlaku di negara-negara Uni Eropa. ASEAN sebagai destinasi tunggal juga telah meluncurkan branding yaitu “Southeast Asia: Feel The Warmth”.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mari tidak menampik adanya kesenjangan pariwisata antarnegara ASEAN, yaitu dari segi sumber daya manusia dan infrastruktur. Kesenjangan tersebut, tambahnya, dari negara yang lebih maju misalnya Singapura dan Malaysia, jika dibandingkan dengan negara yang baru mengembangkan pariwisata seperti Laos dan Myanmmar.

“Untuk konektivitas itu yang penting. Fasilitas untuk menunjang movement (pergerakan) turis ASEAN itu sendiri dan juga dari luar ASEAN ke dalam ASEAN,” ujar Mari.

Ke depannya, lanjutnya, pekerja pariwisata di ASEAN, terutama di bidang hospitality seperti hotel, akan bisa bekerja di seluruh negara anggota ASEAN.

“Untuk bisa kerja di ASEAN, harus memenuhi standar-standar tertentu,” ujarnya.

Adapun, agenda ATF untuk ke depan adalah pertemuan ASEAN dengan China, Korea, Jepang, India, dan Sekjen UNWTO. ATF sendiri merupakan usaha regional untuk mempromosikan kawasan ASEAN  sebagai sebuah destinasi wisata. Ajang tahunan ini melibatkan semua sektor industri pariwisata dari 10 negara anggota ASEAN yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Tahun 2012, ATF yang diselenggarakan di Indonesia mendatangkan 1600 delegasi dari berbagai negara. Acara berlangsung pada 8-15 Januari 2012. Pada ATF ini, diselenggarakan pula ATF TRAVEX berupa pameran dan bursa pariwisata yang menampilkan berbagai industri pariwisata di kawasan ASEAN.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X