Makin Banyak Orang Indonesia Pelesir ke Luar Negeri

Kompas.com - 06/01/2012, 18:30 WIB
Editorkadek

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengeluaran wisatawan nasional (wisnas) atau wisatawan asal Indonesia yang berwisata ke luar negeri di tahun 2010 mencapai 6 milyar dollar AS. Angka yang meningkat pesat karena di tahun 2009, statistik menunjukkan pengeluaran wisnas sebesar 4,9 milyar dollar AS.

Sedangkan devisa yang diterima negara dari wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Indonesia di tahun 2010 sebesar 7,6 milyar dollar AS. Sedangkan di tahun 2009 pengeluaran wisman di Indonesia 6,2 milyar dollar AS.

Dari statistik tersebut, tak heran muncul kekhawatiran bahwa jumlah wisnas akan menyalip wisman di beberapa tahun ke depan. Apalagi demografi Indonesia, sebesar 40 persen merupakan pemuda atau usia produktif.

"Dalam suatu forum saya sampai bicara nasionalisme. Di Medan misalnya, saya katakan jangan selalu pergi ke Penang saja, tapi coba juga ke Jakarta. Di sana ada Taman Mini, misalnya. Ada seorang Ibu yang menjawab, saya ingin dengan uang sejuta saya bisa ke Jakarta dengan anak saya, tapi tidak bisa," tutur Inspektur Jenderal Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif I Gusti Putu Laksaguna.

Ia mengungkapkan untuk membuat destinasi wisata dalam negeri menjadi menarik bagi wisatawan nusantara (wisnus) adalah diperlukan pembuatan paket-paket hemat wisata. Namun, lanjutnya, kendala ada di harga tiket pesawat terbang,

"Harga tiket pesawat itu merupakan 60 persen dari komponen paket. Ini kendala yang dialami teman-teman di biro perjalanan," katanya.

Di tahun 2012, target pemerintah untuk jumlah kunjungan wisman sebesar 8 juta orang. Putu mengatakan sekedar mengejar target wisman saja tidak cukup.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Jangan kita bilang target 8 juta, kalo 1000 (dolar pengeluaran per wisatawan) sudah dapat 8,5 triliun (rupiah), tapi kalau devisa yang keluar ternyata lebih banyak lagi kan tidak ada artinya. Ini yang memang perlu dicermati dan kita perlu membuat action yang jelas," jelasnya.

Sementara itu, Head of Research Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Wismono Nitidihardjo mengungkapkan di banyak negara, harga tiket domestik pada umumnya paling tinggi. Sehingga, lanjutnya, terkadang lebih tinggi dibandingkan tiket regional.

"Domestik tidak ada persaingan dengan maskapai luar. Untuk harga dalam negeri hak eksklusif negara tersebut," katanya.

Ia menambahkan hal ini berbeda dengan tiket regional yang harganya dibebaskan dan tidak diatur oleh pemerintah manapun, sehingga benar-benar berdasarkan mekanisme pasar.

"Di Indonesia, kita punya tarif referensi yang diatur oleh pemerintah, tarif ini tidak bisa dilanggar karena berhubungan dengan keselamatan penumpang. Pemerintah sudah menghitung berapa tarifnya. Kalau ada airline yang menjual di bawah itu, berarti ada yang dikorbankan, entah itu maintenance-nya atau lainnya," jelasnya.

Apalagi, katanya, di 2015 akan diberlakukan udara bebas sehingga tidak ada pembatasan rute regional. Hal ini berarti semua negara, terutama 10 negara yang tergabung dalam ASEAN dapat masuk dengan bebas.

"Saat itu, maskapai kita akan membawa turis keluar maupun masuk Indonesia," ujarnya.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.