Korsel Pikir Ulang soal Lampu Natal

Kompas.com - 20/12/2011, 11:58 WIB
EditorKistyarini

SEOUL, KOMPAS.com — Menyusul kematian pemimpin Korea Utara Kim Jong Il, Korea Selatan berpikir ulang soal rencana penyalaan lampu Natal di menara di perbatasan, demikian kantor berita Yonhap melaporkan, Selasa (20/12/2011).

Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Kwan-jin menyatakan akan "mempertimbangkan kembali" rencana penyalaan lampu Natal di menara-menara di perbatasan dengan Korea Utara.

Saat ditanya soal upacara penyalaan lampu Natal yang rencananya dilakukan hari Jumat (23/12/2011), Kim Kwan-jin menyatakan, "Saya akan mempertimbangkan kembali rencana itu karena bertentangan dengan situasi saat ini. Kami belum mengambil keputusan final soal itu. Rasanya tidak sesuai dengan situasi yang terjadi saat ini."

Korea Selatan berencana menyalakan lampu di tiga menara berbentuk pohon Natal di dekat perbatasan dua hari menjelang hari Natal. Korea Utara menuduhnya sebagai propaganda antikomunis Selatan. Pyongyang juga memperingatkan akan "situasi tak terduga" setelah penyalaan pohon Natal itu dan menyatakan Seoul harus bertanggung jawab penuh jika terjadi hal buruk.

Pada Senin (19/12/2011) malam, beberapa jam setelah Utara mengumumkan kematian Kim Jong Il, pejabat militer Korea Selatan menyatakan, kementerian pertahanan bersedia menerima permintaan kelompok-kelompok agama untuk membatalkan rencana mereka menyalakan lampu-lampu Natal di menara perbatasan itu.

Pada Natal 2010, Korea Selatan menyalakan menara Natal di sebuah bukit perbatasan bernama Aegibong untuk kali pertama sejak 2003 ketika tradisi tahunan Natal itu dihentikan berdasarkan perjanjian rekonsiliasi dua Korea. Tahun ini, Selatan berencana mendirikan dua menara tambahan di perbatasan itu.

Seoul menjalankan kembali tradisi itu tahun lalu menyusul provokasi berdarah oleh Pyongyang di Laut Kuning. Insiden ini menewaskan 50 warga Korea Selatan, termasuk dua warga sipil.

Menara Aegibong menjadi simbol kemakmuran Korea Selatan, sebuah kondisi yang bertolak belakang dengan Korea Utara yang miskin. Pyongyang khawatir warna-warni lampu itu bisa melemahkan cengkeraman ideologi rezim Kim Jong Il. Kelap-kelip lampu Aegibong bisa dilihat dari kota terbesar di perbatasan Korea, Kaesong.

Sejak pengumuman kematian Kim Jong Il, militer Korea Selatan menyatakan kesiagaan, tetapi memilih berhati-hati dalam mengambil tindakan. Dalam sidang parlemen hari ini, Menhan Kim Kwan-jin menyatakan pentingnya menjaga perdamaian dan keamanan Semenjung Korea seraya menekankan perlunya "memonitor situasi dengan tenang dan berhati-hati".

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.