Tren Wisatawan Menginap di Desa

Kompas.com - 19/12/2011, 03:28 WIB
Editor

Denpasar, Kompas - Pariwisata masih menjadi motor penggerak perekonomian Pulau Dewata hingga akhir tahun ini dan proyeksi tahun 2012. Namun, pariwisata tetap memiliki kerentanan sehingga tetap perlu mengembangkan diversifikasi produk yang diarahkan berbasis kerakyatan.

Beberapa tahun terakhir ini, wisatawan mulai mengurangi lama tinggal di hotel berbintang ataupun melati. Berdasarkan Kajian Ekonomi Regional Provinsi Bali Triwulan I 2011 oleh Bank Indonesia, rata-rata masa tinggal wisatawan mancanegara di hotel berbintang ataupun kelas melati tercatat sekitar tiga hari. Padahal, beberapa tahun sebelumnya bisa mencapai lebih dari lima hari masa tinggalnya.

Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali Perry Markus, di Denpasar, Jumat pekan lalu, mengatakan, wisatawan mancanegara mulai melirik kawasan pedesaan untuk disinggahi hingga ditinggali beberapa hari. Ia memperkirakan turis asing memilih berpindah-pindah untuk menginap sehingga masa tinggal di satu hotel pun menjadi pendek.

Karena itu, ini menjadikan tren perilaku wisatawan mancanegara ke Pulau Dewata. Bahkan, ia memperkirakan Pantai Kuta pun bisa tak lagi menjadi lokasi utama yang perlu di kunjungi berlama-lama. ”Selain itu, beberapa wisatawan asing itu merupakan wisatawan ulangan atau datang ke Bali tidak hanya sekali. Jadi setelah pulang, mereka datang lagi,” katanya.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika pada penandatangan penyerahan Bank Indonesia Social Responsibility (BSR) di kantor Bank Indonesia wilayah Denpasar, kemarin, mengajak berbagai pihak, baik dari perbankan maupun pelaku pariwisata, agar berkreasi memajukan industri andalan Bali ini dengan berbasis kerakyatan. Ia pun menyambut baik jika BSR ini mampu benar-benar mewujudkan desa wisata yang memiliki kualitas berstandar internasional.

”Kami berharap pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen ini bisa pula dinikmati hingga ke pedesaan dan semoga merata sehingga pariwisata Bali bisa tetap eksis,” kata Pastika.

Sebanyak tujuh desa di enam kabupaten dari sembilan kabupaten/kota di Bali mendapatkan dana dari BSR sekitar Rp 1 miliar. Anggaran ini dipergunakan mewujudkan desa wisata dengan memperbaiki infrastruktur hingga pelatihan sumber daya manusia dari warga setempat. Beberapa rumah diharapkan bisa menjadi tempat tinggal wisatawan dengan standar yang sesuai sehingga tidak kalah dengan hotel-hotel.

Desa tersebut adalah Desa Pinge (Tabanan), Desa Penglipuran (Bangli), Desa Bedulu (Gianyar), Desa Belimbingsari (Jembrana), Desa Pancasari (Buleleng), serta Desa Budakeling dan Jasri (Karangasem). Pemimpin Bank Indonesia wilayah Denpasar Jeffrey Kairupan berharap BSR bekerja sama dengan Bali Hotels Associates bisa memberi manfaat bagi masyarakat Bali. (AYS)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.