Korban Disetarakan Kasus "Holocaust"

Kompas.com - 09/12/2011, 04:15 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Dasar pembelaan korban pembantaian Rawagede menggunakan argumentasi holocaust, pembunuhan warga Yahudi di Belanda semasa Perang Dunia II. Pengacara korban pembantaian Rawagede, Liesbeth Zegveld, dalam dialog di Komnas HAM, Jakarta, Kamis (8/12), mengatakan, Pemerintah Belanda masih memberikan ganti rugi kepada kerabat korban holocaust di negerinya sehingga itu dijadikan argumen kuat untuk memperjuangkan kasus Rawagede.

”Kalau peristiwa holocaust Yahudi saja masih dibantu hingga hari ini, tentu kasus pembantaian Rawagede juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Kasus tersebut juga sama-sama sudah kedaluwarsa kalau mengacu pada sistem hukum kontinental, yakni 30 tahun,” kata Zegveld.

Semasa Perang Dunia II, banyak warga Yahudi yang mencari selamat mengungsi ke Kerajaan Belanda. Meski demikian, semasa pendudukan Jerman atas Kerajaan Belanda, banyak warga Yahudi yang ditangkap dan kemudian dibunuh. Atas peristiwa tersebut, masih banyak kerabat warga Yahudi yang mendapat kompensasi terhadap kekejaman yang dialami keluarga dekatnya.

Selain itu, untuk mempermudah memperjuangkan nasib para janda korban pembantaian Rawagede, dasar argumen yang diajukan tim pengacara adalah tindak kekerasan Kerajaan Belanda terhadap warga negaranya. Hal itu dilakukan mengacu pada masa sebelum penyerahan kedaulatan tahun 1949, Belanda masih mengakui mengklaim wilayah Hindia Belanda saat terjadi pembantaian Rawagede, Karawang, tanggal 9 Desember 1947.

Meski demikian, untuk membatasi tuntutan, Zegveld menambahkan, pihak pengadilan Belanda membatasi yang berhak mendapat ganti rugi adalah janda atau korban peristiwa Rawagede. Disayangkan, hak menuntut ganti rugi itu tidak mencakup anak- anak para korban.

Namun, Zegveld akan terus mencari celah hukum dan mengupayakan keadilan bagi para korban kejahatan perang semasa proses dekolonisasi Kerajaan Belanda di Indonesia bekas Hindia-Belanda tahun 1945-1949.

Zegveld mendorong dilakukan penyelesaian di luar peradilan untuk mempermudah penyelesaian kasus-kasus kekerasan di masa lalu.

Ketua Komisi Utang Kehormatan Belanda (KUKB) Jefry Marcel Pondaag dalam kesempatan sama mengingatkan rakyat Indonesia untuk terus menuntut kesetaraan pada dialog dengan Kerajaan Belanda.

”Kita harus mendorong Pemerintah Indonesia terus bersikap tegas kepada Belanda. Kami bekerja di Belanda, dan Indonesia lebih banyak dengan bantuan sesama rakyat secara sukarela,” ujar Pondaag yang bermukim di Belanda sejak 1969.

Max van der Werff, relawan KUKB Belanda, mengaku pihaknya sudah mengantongi sejumlah data kasus kekerasan tentara Belanda semasa 1945-1949 yang akan dilacak selama berada di Indonesia dengan menghubungi sejumlah saksi mata. (Ong)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X