Bonn, Menggapai Asa Afganistan

Kompas.com - 05/12/2011, 19:56 WIB
|
EditorJosephus Primus

KOMPAS.com - Sepuluh tahun silam, hanya berselang beberapa minggu pascatumbangnya Taliban, pemerintah Afganistan menggelar konferensi mengenai masa depan negara itu. Lokasinya, di Kabul.

Bukannya makin membaik, masa depan Afganistan pun seakan menempuh jalan tak berujung. Kisruh dan bau anyir darah.

Kini, di Bonn, Jerman, konferensi Afganistan lagi-lagi dihelat. Menurut penyelenggara, tujuan konferensi adalah untuk memperkuat komitmen internasional dalam jangka panjang terhadap pembangunan Afganistan serta mendukung upaya-upaya memulihkan keamanan di negeri itu.

Namun pemain kunci dalam skenario ini, Pakistan, memboikot konferensi sebagai protes atas serangan NATO yang menewaskan puluhan warganya di perbatasan dua negara bulan lalu. NATO sudah menyampaikan permintaan maaf terkait serangan udara pada 26 November 2011 yang menewaskan 24 tentara Pakistan itu.

Menurut warta AP dan AFP pada Senin (5/12/2011), AS dan sejumlah negara barat sudah lama menyimpan dugaan bahwa Pakistan menjadi sarang Taliban dan kelompok pemberontak lain. Termasuk, jaringan Haqqani yang diduga mendalangi serangan terhadap kubu Afganistan di seberang perbatasan.

Pada sisi lain, banyak pengamat memandang komitmen jangka panjang terhadap Afganistan sebagai syarat utama untuk penciptaan stabilitas di negara itu. Soalnya, sejumlah kekuatan utama negara Barat sudah meninggalkan negeri itu pada 2014.

Sekitar 1.000 delegasi dari 100 negara dan organisasi internasional mengambil bagian dalam konferensi ini. Menlu AS Hillary Clinton adalah salah satu pejabat senior dari pemerintahan yang hadir.

Mematikan

Sebagian besar pertempuran paling mematikan dalam konflik sepuluh tahun terakhir ini bertempat di dekat perbatasan dengan Pakistan, di timur Afganistan. Sudah lebih dari 500 tentara NATO tewas akibat perang di Afganistan pada tahun ini saja. "Tujuan kami adalah terciptanya Afganistan yang damai yang tidak lagi menjadi tempat pelarian terorisme internasional," kata Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle menjelang konferensi.

Mantan utusan khusus PBB untuk Afganistan, Lakhdar Brahimi, mengatakan sepuluh tahun lalu sudah menyerukan agar dilakukan pendekatan pada Taliban setelah organisasi bersenjata itu didepak mundur oleh kekuatan militer AS di Afganistan pada 2001. "Kita harus mencari tahu kemana mereka pergi dan apa yang mereka pikirkan dan jika saja barangkali mereka tertarik kita bisa sertakan mereka (dalam negosiasi)," katanya.

Upaya mengajak Taliban terlibat dalam pembicaraan sedang berjalan. Namun, belum ada hasil positif.

Upaya tersebut malah telah memakan korban pada September lalu, dengan terbunuhnya mantan Presiden Burhanuddin Rabbani yang tengah mencoba menjembatanai upaya Kabul merundingkan perdamaian dengan kubu pemberontak. "Saat ini kita tidak tahu di mana mereka tinggal. Tidak tahu mana pintu yang harus diketuk," kata Dubes Afganistan untuk AS, Eklil Hakimi.

 

 
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.