Cucu Sultan Banjarmasin Sudah Menerima Firasat - Kompas.com

Cucu Sultan Banjarmasin Sudah Menerima Firasat

Kompas.com - 04/12/2011, 11:42 WIB

Pengantar: Artikel ini dimuat oleh harian KOMPAS pada 10 Desember 1974 dan mengisahkan firasat seorang calon jemaah haji sebelum ajal menjemputnya dalam kecelakaan DC-8 Martinair di Sri Lanka pada 4 Desember 1974. Artikel ini kembali diturunkan oleh Kompas.com untuk melengkapi artikel Tragedi Besar bagi Indonesia pada 4 Desember.

SURABAYA, KOMPAS.com
- Ny. Kamariyah Syarifuddin, calon jemaah haji udara dari Surabaya yang terkena musibah di pegunungan "Tujuh Dara" Sri Lanka, ternyata, adalah cucu Sultan Banjarmasin, Pangeran Suryanzah.

Ibunya Haji Gusti Ratna (70 tahun) kini bertempat tingggal di Surabaya. "Banyak tanda-tanda, semacam firasat terjadi sebelum ia (Ny. Kamarlyah) berangkat," kata Noor Syirwansysh, adik almarhum.

Sebelum berangkat, Ny, Kamariyah menyerahkan sekotak perhiasan kepada ibunya, Gusti Ratna.
la berpesan, jika nanti ia tak bisa, kembali lagi ke Surabaya, agar barang-barang itu dipakai ibunya saja. Barang-barang ini untuk ibu dan bukan untuk siapa-siapa," katanya.

Di samping ltu, ia bermimpi ketemu almarhum suaminya di sebuah gunung tinggi. Almarhumah Ny. Kamariyah, menuturkan, dalam mimpinya itu ia naik sepeda bersama anaknya yang bernama Rohyati, yang kini tinggal di Banjarmasin. Ketika sampai di kaki gunung, suaminya yang meninggal sejak Juli tahun 1973, memanggil-manggll untuk ikut. Dan meminta agar anakmya ditinggal saja.

Selain itu, almarhumah sebenarnya sudah diajak anaknya, untuk bersama-sama naik haji bulan November lalu. Tetapi ia tidak mau. Adik iparnya pun mengajak bersama-sama pada gelombang
berikutnya. Tetapi ia juga tidak mau. Dan baru berangkat dengan familinya jemaah haji dari Gresik, yaitu suami istri Moch. Abdul Bani, dengan pemwat yang kemudian jatuh di Sri Lanka itu.

Beberapa saat sebelum berangkat dengan pesawat yang terkena musibah itu, Ny. Kamariyah, masih mengirimkan surat yang ternyata merupakan surat terakhir, kepada adik dan ibunya.

Di dalam surat itu, ia menceritakan tentang keadaannya di asrama karantina di lapangan terbang "Juanda" Surabaya. Antara lain ia menulis: "Berita dalam asrama, layanannya sangat memuaskan dari makan minum dan tempat tidur sampai mandi dan buang air lebih enak dari di rumah nanda sendiri.

Dari tempat pemeriksaan yang diantar oleh keluarga kita, nanda dikirim naik bus ke asrama yakni di kompleks (Pend. Angkatan Laut) yang sangat luas sekali daerahnya. Nanda dan kawan-kawan dapat Mess Perwira. Saban pagi sehabis Sholat Subuh dan kuliahnya nanda Jalan-Jalan keliling-keliling jam 5 dapat minuman kopi/teh. Jam 7.00 sarapan pagi jam 9.00 ceramah jam 12.00 makan siang.

Sehabis sholat zuhur jam 19.00 makan malam. Jam 21.00 ceramah 1agi. Kalau setengah bulan saja, nanda mungkin jadi sapi besarnya.

Hiburan cukup, ada kasidah, keroncong lagu Melayu dll. Juga TV di setiap sudut. Nah inilah berita asrama, agar bunda Jangan salalu memikirkan nanda. Insya Allah, Tuhan mellndungi dan melimpahkan Rachmatnya pada nanda. berkat doa restu bunda dan keluarga lainnya yang amat makbul. Semoga bunda, adik-adik dan anak-anakku semuanya sehat walaflat hendaknya sampai jumpa lagi di Tanah Air". Selanjutuya Ny Kamarlyah menambahkan „Keberangkatan, nanda pada tanggal 4/12 -'74 Jam 17.00 dengau penerbangan ke 56. Diperkirakan pulangnya ke tanah air pada tanggal 22/1 '75 Jam 17.00 nanti kalau sampai tgl. kepulangannya tanyakan kepastiannya pada urusan haji".

Tak disangka, surat ini merupakan yang terakhir kali ditulis almarhumah. (MM, KOMPAS, 10 Desember 1974).


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorJimmy Hitipeuw

    Terkini Lainnya

    Bupati Pakpak Bharat Diduga Instruksikan Semua Kepala Dinas untuk Atur Pengadaan

    Bupati Pakpak Bharat Diduga Instruksikan Semua Kepala Dinas untuk Atur Pengadaan

    Nasional
    Tiba di Surabaya, Jokowi Langsung Jalan-jalan ke Tunjungan Plaza

    Tiba di Surabaya, Jokowi Langsung Jalan-jalan ke Tunjungan Plaza

    Nasional
    Cerita Fatmawati dan 5 Putrinya Lolos dari Kebakaran Hebat di Rumahnya

    Cerita Fatmawati dan 5 Putrinya Lolos dari Kebakaran Hebat di Rumahnya

    Regional
    'Jangan Sampai Ambisi Pribadi Rusak Tata Negara di Indonesia'

    "Jangan Sampai Ambisi Pribadi Rusak Tata Negara di Indonesia"

    Nasional
    Uang Suap Bupati Pakpak Bharat Diduga untuk Amankan Kasus Hukum Istrinya

    Uang Suap Bupati Pakpak Bharat Diduga untuk Amankan Kasus Hukum Istrinya

    Nasional
    Bupati Pakpak Bharat Diduga Terima Suap Rp 550 Juta dari Kontraktor

    Bupati Pakpak Bharat Diduga Terima Suap Rp 550 Juta dari Kontraktor

    Nasional
    Kim Jong Un Ingin Memodernisasi Pabrik Kaca Taegwan

    Kim Jong Un Ingin Memodernisasi Pabrik Kaca Taegwan

    Internasional
    Titik Terang Misteri Kematian Bapak dan Anak Asal Lahat di Sukabumi

    Titik Terang Misteri Kematian Bapak dan Anak Asal Lahat di Sukabumi

    Regional
    KPK Tetapkan Bupati Pakpak Bharat dan Kepala Dinas PUPR sebagai Tersangka

    KPK Tetapkan Bupati Pakpak Bharat dan Kepala Dinas PUPR sebagai Tersangka

    Nasional
    Warga Keluhkan Pasangan Mesum di Rumah Kos, Polisi Amankan 4 Mahasiwa

    Warga Keluhkan Pasangan Mesum di Rumah Kos, Polisi Amankan 4 Mahasiwa

    Regional
    Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Dalam Drum Ditemukan Pemulung di Bogor

    Mayat Laki-laki Tanpa Identitas Dalam Drum Ditemukan Pemulung di Bogor

    Regional
    Puting Beliung Terjang Madiun, Empat Rumah Rata dengan Tanah

    Puting Beliung Terjang Madiun, Empat Rumah Rata dengan Tanah

    Regional
    Tunawisma Pahlawan dalam Serangan Melbourne Kini Diseret ke Pengadilan

    Tunawisma Pahlawan dalam Serangan Melbourne Kini Diseret ke Pengadilan

    Internasional
    Tiba di Surabaya dari Papua, Ini Agenda Kunjungan Kerja Jokowi Senin Besok

    Tiba di Surabaya dari Papua, Ini Agenda Kunjungan Kerja Jokowi Senin Besok

    Nasional
    3 Fakta Unik Harimau Sumatera 'Atan Bintang', Disebut Pintar hingga Sulit Dievakuasi

    3 Fakta Unik Harimau Sumatera 'Atan Bintang', Disebut Pintar hingga Sulit Dievakuasi

    Regional

    Close Ads X