Jangan Ngomong Demokrasi di Tiananmen

Kompas.com - 12/11/2011, 09:41 WIB
Penulis Subhan SD
|
EditorAgus Mulyadi

BEIJING, KOMPAS.com - Negara China sudah makin maju. Ekonominya makin tumbuh pesat, yang menjadi kekuatan baru dunia. Pertumbuhan kota-kota di China begitu cepat. Infrastruktur dan properti, serta industrinya terus berkembang. Dan, sudah pasti produk-produk China menguasai pasar dunia.

Tetapi, secara politik, China tetap di bawah Partai Komunis, yang identik dengan ketertutupan dan antidemokerasi. Penduduk China sepertinya ogah bicara politik, tak seperti di Indonesia yang semua orang seakan merasa bisa menjadi "pengamat politik".

Tapi, itu tak lain karena mereka merasa tabu atau takut bicara politik,terutama soal kebebasan dan demokrasi. Kantor-kantor pemerintah, termasuk pers dijaga polisi militer, bukan satpam biasa.

Di Lapangan Tiananmen dengan latar foto besar pemimpin besar Mao Zedong (1893-1976), dan 22 tahun lalu menjadi saksi patahnya gerakan demokrasi yang dimotori mahasiswa Universitas Beijing, tampak tentara berjaga-jaga.

Ketika menyusuri Lapangan Tiananmen, seorang wartawan China yang menemani, bilang agar berhati-hati bicara soal demokrasi. Saat itu saya bertanya soal Wang Dan, salah satu mahasiswa tokoh demokrasi penggerak protes tahun 1989 yang berujung menjadi tragedi Tiananmen yang menimbulkan korban jiwa tidak sedikit.

"Hati-hati bicara soal itu," katanya setelah kami melewati pemeriksaan metal detektor pertama menuju Lapangan Tiananmen.

"Sekarang tidak ada lagi yang membicarakan Wang Dan," ujar seorang eksekutif di perusahaan swasta.

Seorang warga berkisah, pernah suatu waktu mengantar rombongan dari Malaysia. Saat itu rombongan tersebut membicarakan mengenai tragedi Tiananmen. Ternyata mereka dikuntit tentara. Bahkan si pengantar sempat ditanya, siapa rombongan itu?

Soal kebebasan dan demokrasi, mungkin jadi barang mahal. Terlebih lagi sejak perang melawan terorisme dimotori Amerika Serikat, pengawasan terhadap kelompok-kelompok teror menjadi perhatian serius, termasuk di China. "Kami menentang terorisme," tutur Wakil Ketua Asosiasi Islam China, Mustafa Yang Zhibo di Beijing.

Melihat perkembangan ekonomi China yang makin melejit, demokrasi dan kebebasan berpolitik barangkali tak lagi dipikirkan oleh rakyat China. Mereka menghadapi kenyataan bahwa ekonomi makin maju, rakyat pun pun kian menuju ke tingkat ekonomi yang lebih baik dan sejahtera.

Memang, banyak pihak yang mencibir model komunisme yang sudah berkolusi dengan kapitalisme di China. Namun, pemimpin China Deng Xiaoping (1904-1997) selalu bilang, "Tak masalah menjadi kucing putih atau merah, yang penting bisa menangkap tikus."

Lalu seorang teman berbisik, buat apa demokrasi kalau tidak bisa membuat rakyat sejahtera?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.