Saif dan Saadi Khadafy Angkat Bicara

Kompas.com - 25/10/2011, 15:36 WIB
EditorKistyarini

TRIPOLI, KOMPAS.com - Setelah kematian Kolonel Moammar Khadafy, hanya satu putranya yang keberadaannya belum jelas. Siapa lagi kalau bukan Saif al-Islam, lelaki yang disiapkan Khadafy untuk menggantikannya.

Keberadaan Saif masih simpang siur. Bahkan para pejabat Dewan Transisi Nasional (NTC) pun memberi keterangan yang saling bertentangan. Satu pejabat mengatakan, pihaknya berhasil menangkap Saif yang terluka parah. Sementara pejabat lainnya menyatakan masih memburu Saif.

Di tengah kesimpangsiuran itu, Saif tiba-tiba memberi pernyataan di televisi Suriah. Lelaki 39 tahun berpendidikan Inggris itu mementahkan kabar penangkapan dirinya, seperti dilansir Abcnews.

"Kami akan meneruskan perlawanan. Saya berada di Libya, masih hidup, bebas, dan bertekad berjuang hingga akhir dan melakukan pembalasan," televisi Suriah Al Rai memperdengarkan suara Saif.

"Persetan dengan kalian semua dan NATO yang mendukung kalian. Ini negara kami dan kami tinggal di dalamnya, dan kami akan mati di sana dan akan terus berjuang."

Pesan pendek itu disiarkan Al-Rai pada Minggu (23/10/2011) dan kemudian diunggah oleh beberapa orang ke Youtube. Tidak jelas apakah pesan audio itu disiarkan secara langsung atau direkam.

Televisi Al-Rai disiarkan hingga ke Libya dan di masa lalu selalu menayangkan pesan-pesan Moammar Khadafy.

Saat perburuan terhadap Saif al-Islam kian intensif, adiknya, Saadi terang-terangan mengecam perlakuan terhadap ayah dan saudara lelakinya Mutassim. Saadi, yang kabur dari Libya pada September lalu, kini menjadi tahanan rumah di Niger, negara tetangga Libya.

"Eksekusi dan penyiksaan yang kejam pada jenazah menunjukkan dengan jelas bahwa orang-orang yang mendukung rezim sebelumnya tidak akan menerima pengadilan yang adil di Libya," kata Saadi melalui juru bicaranya.

Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB mendesak pemerintah baru Libya untuk menyelidiki cara kematian Khadafy. Sebab berbagai video dan berita dari saat Khadafy tertangkap hingga menjadi mayat menimbulkan menimbulkan kecurigaan bahwa Khadafy dieksekusi. Meskipun pernyataann resmi NTC menyebut Khadafi tewas dalam "baku tembak" yang terjadi setelah penangkapannya.

Dari delapan anak Khadafy, tiga di antaranya - Khamis, Mutassim, Saif al-Arab, tewas selama pergolakan ini. tiga lainnya, yakni Mohammed, Hannibal, dan Aisha, berada di Aljazair bersama ibu mereka, Safia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.