Pemerintah NTC Klaim Kuasai Bani Walid

Kompas.com - 18/10/2011, 03:23 WIB
Editor

Tripoli, Senin - Pemerintah sementara Libya yang dijalankan Dewan Transisi Nasional (NTC), Senin (17/10), mengklaim telah berhasil mengibarkan bendera baru Libya di kota Bani Walid, salah satu kota yang dipertahankan mati-matian oleh pendukung pemimpin Libya dalam pelarian, Moammar Khadafy. Namun, tidak dijelaskan apakah pasukan NTC sudah menguasai seluruh kota tersebut.

Bani Walid dan kota kelahiran Khadafy, Sirte, adalah dua kota terakhir yang terus melawan. ”Kami telah mencapai pusat kota (Bani Walid) dan mengibarkan bendera Libya,” ujar Kolonel Abdullah Naker, komandan Dewan Revolusioner Tripoli, kepada Reuters.

Pasukan yang turut mengepung Bani Walid mengonfirmasi, mereka telah berhasil masuk ke kota yang terletak di pegunungan berbatu, sekitar 150 kilometer selatan Tripoli itu.

Bani Walid adalah kota asal suku Warfalla, suku terbesar di Libya yang memiliki kekuatan politik paling berpengaruh di negeri itu. Populasi anggota suku Warfalla mencapai satu juta orang, seperenam jumlah penduduk Libya, dan secara tradisional adalah pendukung setia Khadafy.

Kota itu menjadi ajang pertempuran selama beberapa pekan terakhir. Ratusan loyalis Khadafy yang berlindung di lembah dan bukit terus memberikan perlawanan kepada pasukan pemerintah sementara.

Selain mengerahkan pasukan, pejabat NTC juga bernegosiasi dengan pemimpin suku Warfalla di Bani Walid agar menyerah. Sebuah kelompok yang mengklaim mewakili penduduk kota itu menawarkan gencatan senjata, Senin.

Kelompok itu mengatakan siap menyerah dan menyatakan kesetiaan mereka kepada pemerintahan baru. Sebagai balasannya, mereka mendesak NTC menarik pasukannya dan meninggalkan Bani Walid. Belum jelas apakah NTC menyambut tawaran itu atau apakah mereka sudah menguasai kota sepenuhnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sirte

Berlawanan dengan Bani Walid, di Sirte tidak ada tanda-tanda pasukan NTC yang kurang terkoordinasi mencapai kemajuan untuk memasuki kota itu. Malah, di tengah kekacauan dan kebingungan, loyalis Khadafy berhasil memaksa pasukan lawan untuk mundur.

Tank dan roket pasukan NTC membombardir wilayah kecil di pusat kota, tempat loyalis Khadafy berlindung. Pemerintahan sementara Libya mengatakan, mereka baru bisa melakukan transisi ke demokrasi setelah Sirte dikuasai.

Seorang dokter yang yang bekerja untuk lembaga amal Medecins Sans Frontieres di Sirte memperkirakan 10.000 orang terjebak di kota berpenduduk 75.000 orang itu. Sebagian besar dari mereka adalah perempuan dan anak-anak, beberapa di antara mereka terluka atau menderita sakit. (Reuters/ap/was)



25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X