Saat Biara Jadi Penjara, Mereka Memilih Mati...

Kompas.com - 13/10/2011, 08:39 WIB
EditorEgidius Patnistik

HANYA dalam dua minggu terakhir, lima biarawan melakukan aksi bakar diri di Aba, kota di wilayah otonomi khusus Tibet, yang masuk dalam Provinsi Sichuan, China barat laut. Apa yang membuat mereka begitu putus asa dan nekat?

Kampanye Internasional untuk Tibet (ICT) menyatakan, penderitaan warga etnik Tibet di kota itu sudah sedemikian tak tertahankan di bawah represi Pemerintah China sehingga orang lebih memilih mati daripada meneruskan kehidupan. ICT mengutip para biarawan yang berhasil melarikan diri dari Biara Kirti di kota Aba, yang menjadi pusat aksi protes terhadap Pemerintah China dalam beberapa bulan belakangan.

Kirti Rinpoche, Kepala Biara Kirti, mengatakan, kehidupan di biara itu menjelma tak ubahnya seperti penjara sejak aparat keamanan China menggerebek biara itu setelah aksi protes seorang biarawan, Maret lalu.

”Pemerintah China menahan secara sewenang-wenang dan menjatuhkan hukuman sangat berat berdasarkan tuduhan dan kesaksian salah bulan demi bulan. Semua itu telah mengubah biara tersebut menjadi sebuah penjara,” tuturnya.

Menurut Rinpoche kepada ICT, Pemerintah China merampas segala bentuk kebebasan yang dimiliki para biarawan. ”Agama dan kebudayaan Tibet berada di bawah represi yang tak terbayangkan, yang telah mencapai titik keputusasaan dan membuat orang memilih lebih baik mati daripada meneruskan hidup,” ungkap Rinpoche, yang kini berada di Dharamsala, India, tempat pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, dan Pemerintah Tibet di pengasingan (Central Tibetan Administration) berada.

Warga etnik Tibet di China merasa kebudayaan dan kebebasan mereka makin tergerus dan diberangus di tengah makin dominannya kelompok etnik mayoritas Han di China. Seorang biarawan dari Kirti bernama Phuntsog melakukan aksi bakar diri pertama, 16 Maret.

Aksi itu memicu kemarahan Pemerintah China, yang kemudian melakukan penggerebekan dan penyegelan biara tersebut. Warga setempat berusaha membuat pagar betis untuk mencegah aparat keamanan menyerbu biara tersebut, tetapi kemudian dibubarkan secara paksa dengan kekerasan, menyebabkan dua warga berusia lanjut tewas (Kompas, 25/4).

Aksi bakar diri terakhir dilakukan dua biarawan sekaligus, Jumat pekan lalu. ICT melaporkan, dua biarawan tersebut meninggal dunia. Namun, seorang juru bicara komite Partai Komunis di kota Aba mengatakan kepada kantor berita Agence France Presse bahwa kedua biarawan itu masih hidup dan dirawat di RS. ”Namun, mereka tidak mendapatkan apa-apa, (aksi mereka) tak akan mengubah keputusan kebijakan pemerintah,” tandas juru bicara yang tak disebutkan namanya itu.

Selasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Liu Weimin, membantah adanya pemberangusan kehidupan beragama di Aba. Liu balik menuduh para pengikut Dalai Lama di luar China menghasut terjadinya aksi-aksi bakar diri tersebut. ”Mereka (sengaja) memainkan (isu) itu di publik, menyebar rumor, dan menghasut orang untuk ikut-ikutan,” ujar Liu. (AFP/AP/DHF)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.