Peraih Hadiah Nobel Perdamaian Meninggal

Kompas.com - 27/09/2011, 02:31 WIB
Editor

Wangari Maathai, perempuan Afrika pertama yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun 2004 atas upayanya menyelamatkan hutan-hutan Kenya, meninggal di rumah sakit hari Minggu (25/9) setelah lama berjuang melawan kanker.

Maathai (71) mendirikan Green Belt Movement tahun 1977 untuk berkampanye melakukan penanaman pohon untuk mencegah kondisi sosial dan lingkungan memburuk dan merugikan rakyat miskin, terutama perempuan, yang tinggal di daerah pedesaan Kenya.

Gerakannya diperluas tahun 1980-an dan 1990-an untuk merangkul kampanye yang lebih luas untuk perubahan sosial, ekonomi, dan politik, membuatnya bertentangan dengan pemerintahan presiden waktu itu, Daniel arap Moi.

Maathai harus mengalami dicambuki, disemprot gas air mata, dan diancam dengan kematian karena perjuangannya menyelamatkan hutan-hutan Afrika serta karena keinginannya untuk mengakhiri korupsi yang kerap berarti penghancuran.

”Ini adalah urusan hidup dan mati bagi negara ini,” kata Maathai suatu waktu. ”Hutan-hutan Kenya menghadapi kemusnahan dan itu adalah masalah yang dibuat manusia.”

”Anda tidak bisa melindungi lingkungan kalau Anda tidak memberdayakan manusia, memberi mereka informasi, dan membantu mereka memahami bahwa sumber daya ini adalah milik mereka, bahwa mereka harus melindungi (sumber-sumber daya) itu.”

Maathai lahir di dataran tinggi Kenya tengah pada 1 April 1940. Dia belajar biologi dan mendapat gelar master di AS setelah mendapat gelar doktor kedokteran hewan di Universitas Nairobi, dia menjadi perempuan pertama yang mengajar di universitas itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Komentar mantan suami

Gerakannya, Green Belt Movement, terdiri atas kaum perempuan yang berjuang mengatasi efek deforestasi dan desertifikasi. Dia menggerakkan perempuan-perempuan miskin untuk menanam lebih dari 30 juta pohon sebagai bagian dari kampanye untuk menghasilkan kayu yang berkelanjutan untuk penggunaan bahan bakar dan untuk memerangi erosi tanah.

Pada acara Afrika Live dari BBC, dia mengatakan, kampanye penanaman pohon jauh dari populer ketika dimulai. ”Perlu waktu lama untuk meyakinkan orang bahwa perempuan bisa memperbaiki lingkungan mereka tanpa banyak teknologi dan tanpa banyak sumber daya finansial,” katanya.

Green Belt Movement lebih lanjut berkampanye juga untuk pendidikan, gizi, dan isu-isu lain yang penting bagi perempuan. Gerakan Maathai menyebar ke seluruh Afrika dan membuat gerakan penanaman lebih dari 47 juta pohon untuk memperlambat deforestasi dan erosi. Dia bergabung dengan badan PBB UNEP tahun 2006 untuk meluncurkan kampanye penanaman satu miliar pohon di seluruh dunia.

Dia meninggalkan tiga anak dan seorang cucu perempuan. Mantan suaminya, yang diceraikannya tahun 1980-an, kabarnya mengatakan, Maathai adalah orang yang ”terlalu berpendidikan, terlalu kuat, terlalu sukses, terlalu keras kepala, dan terlalu sulit dikontrol”.

Seorang warga Nairobi, Gikonge Mugwongo, mengatakan, ”Ini adalah saat sedih bagi saya dan negeri ini. Kita telah kehilangan seorang tokoh serius yang telah membentuk tidak hanya Kenya, tetapi juga dunia. Kita telah kehilangan seorang yang berpikiran hebat, perempuan hebat yang bisa mengubah nasib orang di negara ini. (Reuters/AFP/DI)



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.