Belanda Terbukti sebagai Penjahat Perang - Kompas.com

Belanda Terbukti sebagai Penjahat Perang

Kompas.com - 15/09/2011, 10:47 WIB

Pengadilan Den Haag, Rabu (14/9/2011), menyatakan Belanda bertanggung jawab atas pembantaian di desa Rawagede, sekarang bernama Balongsari, Jawa Barat.

Hakim ketua D.A. Schreuder secara tegas menyebut tindakan Belanda sebagai ilegal (onrechtmatig). Keputusan ini memandang Belanda bersalah karena dianggap membunuhi warga sendiri. Pengadilan mendasari putusannya atas pertimbangan bahwa hukum Belanda dianggap berlaku di Hindia Belanda sampai tahun 1949.

Radio Nederland melaporkan, hakim menolak pleidoi advokat negara Belanda, G.J.H. Houtzagers, yang menyebut kejahatan tersebut sudah kadaluarsa. Hakim memakai asas lex spesialis. Artinya pengadilan Den Haag melihat kasus pembantaian Rawagede sebagai kasus khusus, sehingga preseden kadaluarsa tidak berlaku.

Anggota parlemen Belanda dari partai sosialis, SP, terkejut. "Biasanya argumen kadaluarsa selalu sukses, tapi tidak dalam pengadilan ini. Yang penting ternyata kejahatan perang tidak bisa kadaluarsa. Saya pikir ini berita besar. Pertama-tama buat mereka yang terkait, terlebih ini pengakuan bagi mereka yang sudah tidak ada lagi, karena sudah meninggal atau belum bergabung dengan komite. Ini keputusan bersejarah."

Walau demikian, hakim tidak mengabulkan seluruh gugatan ganti rugi. Pengadilan Den Haag membatasi pemberian kompensasi pada janda, korban langsung atau anaknya. Berarti tidak termasuk cucu korban.

Pengacara Liesbeth Zegveld tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Setelah 64 tahun akhirnya Belanda secara hukum dinyatakan bersalah atas aksinya di Indonesia. Putusan ini menjadi preseden baru dan bisa saja diterapkan dalam kasus Westerling di Sulawesi. "Selama mereka masih hidup, dan kasusnya jelas seperti kasus ini...setiap pihak mengakui terjadi kesalahan besar, terjadi kejahatan perang...maka akan dilihat apakah ini sama dengan kasus Rawagede," kata Liesbeth Zegveld seperti Radio Nederland.

Eksekusi

Kasus ini diajukan oleh keturunan korban pembunuhan massal di desa Rawagede. Tragedi berdarah ini terjadi pada 9 Desember 1947, pada masa perang kemerdekaan Indonesia. Tentara Belanda yang mencari pejuang kemerdekaan Lukas Kustario memasuki desa Rawagede dan mengeksekusi penduduk laki-laki karena menolak memberi informasi mengenai kapten Kustario.

Sebagian besar penduduk laki-laki desa Rawagede dieksekusi. Menurut saksi mata, para lelaki tersebut dijejerkan dan ditembak mati. Pihak Indonesia menyatakan, 431 laki-laki dibunuh, Sedangkan pemerintah Belanda pada 1969 bersikeras jumlahnya “hanya” 150. Pada 1947 Belanda memutuskan untuk tidak menyeret pelaku eksekusi massa ke pengadilan.

Pada 2009 keluarga korban menggugat negara Belanda. Para janda menuntut pengakuan dan ganti rugi atas meninggalnya tulang punggung keluarga mereka. Waktu itu, beberapa janda, dan korban selamat terakhir, Saih bin Sakam, khusus datang ke Belanda untuk proses ini. Sayangnya ia wafat 8 Mei 2011 dalam usia 88 tahun. Bagi Saih, pelaku pembunuhan massal tidak perlu lagi diseret ke pengadilan, permintaan maaf dan ganti rugi sudah cukup.

Penjahat

Selama ini Belanda menganggap dirinya korban kejahatan Nazi Jerman di masa Perang Kedua. Keputusan pengadilan Den Haag ternyata membuat Belanda sekarang menjadi pelaku kejahatan perang.

"Sekarang ternyata bukan Jerman saja si penjahat perang. Belanda pun kini dinyatakan sebagai penjahat," tukas seorang wartawan luar negeri yang asyik membuat cerita kasus Rawagede di pengadilan Den Haag.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorEgidius Patnistik

    Terkini Lainnya

    RUU Kekerasan Seksual, Ini PR Besar DPR yang Harus Tuntas!

    RUU Kekerasan Seksual, Ini PR Besar DPR yang Harus Tuntas!

    Edukasi
    Terungkapnya Pembunuh Dufi, Pria yang Ditemukan Tewas di Dalam Drum

    Terungkapnya Pembunuh Dufi, Pria yang Ditemukan Tewas di Dalam Drum

    Megapolitan
    Geledah 8 Lokasi di Medan dan Pakpak Bharat, KPK  Uang Rp 55 Juta di Rumah Bupati

    Geledah 8 Lokasi di Medan dan Pakpak Bharat, KPK Uang Rp 55 Juta di Rumah Bupati

    Nasional
    Gara-gara Pakan Ayam, Polisi Sukses Tangkap Maling Motor Ini

    Gara-gara Pakan Ayam, Polisi Sukses Tangkap Maling Motor Ini

    Regional
    Pipa Bocor di Puri Kembangan Jakbar, Air Menyembur ke Jalanan

    Pipa Bocor di Puri Kembangan Jakbar, Air Menyembur ke Jalanan

    Megapolitan
    Ambil S-1 di Belanda? Kuliah di Minggu Pertama Langsung 'Nge-gas'!

    Ambil S-1 di Belanda? Kuliah di Minggu Pertama Langsung "Nge-gas"!

    Edukasi
    Saudi Dilaporkan Siksa dan Lecehkan Aktivis Perempuan

    Saudi Dilaporkan Siksa dan Lecehkan Aktivis Perempuan

    Internasional
    Beda Sikap Gubernur dan Ketua DPRD DKI soal Pembangunan Stadion BMW

    Beda Sikap Gubernur dan Ketua DPRD DKI soal Pembangunan Stadion BMW

    Megapolitan
    Berandalan Bermotor Sukabumi Terlibat Bentrokan, Dihukum Bersihkan Tugu Adipura

    Berandalan Bermotor Sukabumi Terlibat Bentrokan, Dihukum Bersihkan Tugu Adipura

    Regional
    5 Fakta Tewasnya CLP di Indekos Mampang: Ditemukan di Lemari hingga Luka di Kepala...

    5 Fakta Tewasnya CLP di Indekos Mampang: Ditemukan di Lemari hingga Luka di Kepala...

    Megapolitan
    Menko PMK Pastikan Pembangunan Rumah Korban Gempa Berjalan Lancar

    Menko PMK Pastikan Pembangunan Rumah Korban Gempa Berjalan Lancar

    Nasional
    Kuliah di Belanda Jangan Gampang 'Baper', Tahu Sebabnya?

    Kuliah di Belanda Jangan Gampang "Baper", Tahu Sebabnya?

    Edukasi
    Berniat Menjemput Suami di Malaysia, Seorang Ibu Meninggal Usai Melahirkan di Kapal

    Berniat Menjemput Suami di Malaysia, Seorang Ibu Meninggal Usai Melahirkan di Kapal

    Regional
    5 Turis India yang Mengemis dan Meramal di Nunukan Tak Bisa Bahasa Indonesia

    5 Turis India yang Mengemis dan Meramal di Nunukan Tak Bisa Bahasa Indonesia

    Regional
    Trump: Kasus Pembunuhan Khashoggi Tak Pengaruhi Hubungan AS-Saudi

    Trump: Kasus Pembunuhan Khashoggi Tak Pengaruhi Hubungan AS-Saudi

    Internasional

    Close Ads X