Pesawat Militer Jatuh, 30 Orang Tewas

Kompas.com - 15/09/2011, 10:01 WIB
EditorEgidius Patnistik

LUANDA, KOMPAS.com - Sebuah pesawat angkatan udara Angola, Rabu (14/9/2011), jatuh di bandara Huambo di bagian tengah negara itu. Kecelakaan itu menewaskan sedikitnya 30 orang, termasuk tiga jenderal angkatan darat, kata seorang pejabat militer kepada AFP. Enam orang lain selamat, termasuk pilot dan co-pilot. Mereka telah dibawa ke rumah sakit militer dengan luka bakar.

Ada juga warga sipil di antara para korban, termasuk dua wanita dan dua anak-anak, kata sumber tersebut. "Saya tidak tahu apa yang terjadi, pesawat itu baik selama mulai meluncur  dan lepas landas, dan kemudian saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi," kata Kapten Jose Goncalves, yang selamat dari kecelakaan itu.

Jet Embraer buatan Brazilia itu juga membawa beberapa perwira Angkatan Udara di dalam pesawat ketika jatuh sekitar tengah hari, tidak lama setelah lepas landas dari kota besar kedua Angola, Huambo, untuk tujuan ibu kota  Luanda, sekitar 600 kilometer di barat laut, dengan rencana singgah di pantai barat Benguela. Pesawat itu digunakan untuk mengangkut para perwira senior.

Seorang pejabat rumah sakit mengatakan, lima dari penumpang menderita luka bakar tingkat dua dan seorang penumpang berada dalam kondisi serius dengan luka bakar derajat ketiga.

Kantor berita Angola yang dikelola negara, Angop, menyebutkan dua korban yang tewas adalah Letnan Jenderal Francisco Bernardo Leitao Diogo dan Letnan Jenderal Elias Bravo Malungo Pedro da Costa. Sebuah foto yang diterbitkan oleh Angop menunjukkan pesawat patah menjadi dua bagian, dan BBC melaporkan bahwa orang-orang di bagian depan selamat sementara orang-orang di bagian belakang tewas ketika terbakar.

"Terlalu dini untuk memberi verifikasi penyebab kecelakaan itu. Satu komisi penyelidikan  akan dibentuk," kata  Ernesto Dos Santos, yang bertanggung jawab atas transportasi Angkatan Udara Angola kepada AFP.

Dia menambahkan, penyelidikan bisa memerlukan waktu "satu atau dua bulan".

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Angola yang kaya minyak, yang  bersaing dengan Nigeria untuk menjadi produsen minyak mentah terbesar Afrika, telah menghamburkan belanja infrastruktur besar sejak berakhirnya perang saudara tahun 2002. Tiga perang saudara di negara itu menelan korban tewas hingga 500.000 orang dan menghancurkan perekonomian.

Meskipun konflik berakhir, anggaran pertahanan terus mendapat  persentase besar dari anggaran keseluruhan. Angola punya jumlah tentara  terbesar di Afrika tengah dan selatan, dan salah satu kekuatan udara terbesar di sub-Sahara Afrika. Angkatan Bersenjata Angola merupakan penyatuan dua anggota bekas pasukan yang bermusuhan - MPLA yang sekarang di pemerintahan dan UNITA, yang telah menjadi oposisi utama di parlemen.

Kemiskinan dan infrastruktur yang buruk telah menghambat keamanan udara di negara Afrika, dan Angola memiliki catatan keselamatan yang buruk dengan Uni Eropa melarang beberapa penerbangannya ke sana.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X