Khadafy Lari Bersama Truk Penuh Emas?

Kompas.com - 07/09/2011, 14:31 WIB
EditorEgidius Patnistik
Pemimpin Libya yang terjungkal, Moammar Khadafy, diduga telah melarikan diri dari negera itu dan emas hasil jarahannya ikut dibawa. Tiran itu dan putranya diduga sudah melewati perbatasan Libya bersama truk penuh uang tunai.

KHADAFY dikatakan telah melarikan diri dari Libya pada Selasa (6/9/2011) malam dalam sebuah konvoi yang terdiri 250 kendaraan bersenjata, termasuk truk-truk yang penuh dengan emas dan uang tunai. Berita harian Italia, Corriere della Sera, pada 25 Agustus lalu menyebutkan, Khadafy ditaksir punya 25 ton emas dengan total nilai sekitar 10 miliar dollar AS.

Media Inggris, Daily Mail, Rabu (7/9/2011), melaporkan, tiran yang terguling itu, yang sudah memerintah Libya selama 42 tahun, dilaporkan menuju ke negara Afrika barat yang miskin, yaitu Burkina Faso. Negara bekas koloni Perancis itu telah mengatakan akan memberi Khadafy perlindungan, dalam kesepakatan yang diperantarai Afrika Selatan.

Konvoi tersebut, yang terdiri dari para pendukung Kolonel itu yang asal Libya, termasuk kepala keamanannya Mansour Dhao dan pasukan suku, melintasi padang pasir ke negara Niger. Mereka tiba di ibukota Niger, Niamey, kemarin malam. Laporan-laporan itu belum dikonfirmasikan semalam. Namun Amerika Serikat mengatakan, pihaknya tetap yakin Khadafy masih berada di Libya.

Namun, para pejabat intelijen menduga ada kesepakatan luar biasa yang dijembatani Afrika Selatan dan Perancis, yang bertindak atas nama NATO, demi 'mencegah pertumpahan darah lebih luas di Libya' dengan membiarkan Khadafy dan keluarganya pergi. Para pemimpin baru Libya dari Dewan Transisi Nasional (NTC) menolak untuk mengonfirmasi kesepakatan itu tetapi dikatakan NTC telah 'menandantangani' kesepakatan yang memungkinkan diktator yang terpuruk itu punya waktu tidak lebih dari 72 jam untuk menyeberang ke Niger, negara bekas koloni Perancis yang miskin dan terkurung di selatan Libya. Salah satu putra Khadafy, yang dulu dianggap sebagai bakal pewarisnya, Saif al-Islam, dikatakan ikut menemani ayahnya, bersama sejumlah truk yang sarat dengan emas dan uang tunai.

Para pejabat Niger berkeras soal ketidakpastian keberadaan mantan pemimpin Libya itu dengan menyatakan bahwa dia tidak ada dalam konvoi tersebut ketika konvoi itu melintasi perbatasan. Namun mereka mengatakan, ia mungkin saja telah bergabung dengan konvoi tersebut setelah Khadafy menempuh jalur lain melalui Aljazair.

Para pemberontak, Pasukan Khusus NATO, helikopter-helikopter dan pesawat mata-mata telah memantau daerah perbatasan itu, sebuah rute pelarian paling realistis untuk para pejabat rejim Khadafy dan perwira militer. Negara tetangga Libya, Aljazair, pekan lalu menerima anak perempuan, istri, dan dua orang putra Khadafy.   Sejumlah pejabat pemberontak dengan yakin mengonfirmasi bahwa sebuah konvoi terdiri dari 10 kendaraan telah membawa emas dan uang tunai dalam mata uang euro dan dolar menyeberangi perbatasan dengan bantuan para pejuang suku ke Niger kemarin. Dalam konvoi itu terdapat tentara dan pejuang suku Tuareg, yang telah bertempur sebagai tentara bayaran untuk rejim Khadafy, termasuk Dhao, kepala kesatuan keamanan Khadafy, dan lebih dari sepuluh perwira senior lainnya.

Rombongan itu dikatakan telah menghabiskan waktu semalam di pusat kota Agadez, Niger, dan melanjutkan perjalanan kemarin dengan menembuh jarak  600 mil menuju ibukota Niamey, di sudut barat daya negara itu, dekat dengan perbatasan Burkina Faso.

Khadafy sebelumnya dengan tegas menyatakan ia tidak akan meninggalkan Libya dan juru bicaranya, Ibrahim Moussa, kemarin mengatakan, "Kami akan bertempur hingga  meraih kemenangan. Kami masih kuat, dan kami bisa membalikkan keadaan, mengalahkan para pengkhianat itu dan sekutu NATO. Mommar Khadafy dalam kondisi kesehatan yang prima dan bersemangat tinggi. Dia berada di tempat yang tidak akan dicapai oleh kelompok-kelompok pemberontak, dan dia ada di Libya."

Omongan Moussa itu bertentangan dengan fakta banyaknya tokoh militer senior rejim itu dan tentara yang telah meninggalkan Libya.

Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma, dalam perannya sebagai wakil khusus Uni Afrika untuk kasus Libya, telah memainkan bagian penting dalam mencari tempat yang aman bagi Khadafy. Berdasarkan perjanjian yang melibatkan peran Zuma, konvoi itu dikawal oleh tentara Niger, demikian dilaporkan semalam.

Menurut Daily Mail, Khadafy dan Saif akan menghabiskan waktu di ibukota Burkina Faso, Ouagadougou, tetapi itu bukan tujuan akhir mereka.

Komandan NTC pekan lalu mengatakan bapak-beranak itu berada di kubu suku Bani Walid, 90 mil di selatan Tripoli. Namun mereka melarikan diri, mungkin melalui sistem saluran air bawah tanah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    27th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.