Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menelusuri Jejak Peninggalan Raja Ashoka (1)

Kompas.com - 07/09/2011, 05:44 WIB

KOMPAS.com - Fajar belum juga menyingsing, hujan masih rintik-rintik, tetapi kami memutuskan untuk segera memulai agenda perjalanan hari ini menuju Shanci, masih dalam batas wilayah Madya Pradesh. Lagi-lagi kami tertarik pada situs peninggalan masa silam yang masih tertanam kuat di tanah Shanci. Hari ini rute perjalanan kami agak sedikit bervariasi.

Dari informasi yang kami dapat, Shanci tidak memiliki stasiun kereta api di distriknya. Jalur kereta api terdekat menuju Shanci ada di kota Bhopal, yang merupakan ibukota Madya Pradesh. Selanjutnya kami masih harus mencari bus lokal yang menuju distrik tersebut.

Seorang penjaga penginapan berbaik hati memanggilkan kami bajaj atau autoricksaw. Kabut masih tebal ketika kami mulai meninggalkan perkampungan basah ini. Perjalanan menuju Jhansi cukup lama, pantaslah untuk harga 150 Rupee. Tetapi tak sampai 1 jam kami tiba di stasiun yang memang nampak lebih besar, banyak platform yang aktif beroperasi, gerbong-gerbong kereta api tampak antre untuk mendapatkan sign perjalanan dari masinis.

Kami buru-buru mengantre di loket tiket. Karena jadwal kereta api menuju Bhopal tinggal 40 menit lagi, pukul 07.30 pagi dengan kereta Kurshinagar Express khusus seating class dan yang pasti non-AC. Urusan tiket selesai, kami mampir di kantin untuk makan pagi sekalian men-charge baterei HP dan laptop yang sudah sekarat. Tetapi sungguh sial seorang bapak pemilik kantin menegur kami untuk tidak tidur dan menggunakan fasilitas listrik di sekitar area kantin.

Sialnya, tak berapa lama kami keluar kantin, pihak kepala kereta api memberi pengumuman bahwa kereta tujuan Jhansi mengalami keterlambatan untuk waktu yang belum ditentukan. Untuk membunuh waktu kami sengaja putar-putar areal stasiun, seorang pedagang majalah menawarkan kami TTS ala India dan sebuah Indian Railway Atlas.

Tadinya kami ingin membeli TTS, tetapi setelah lihat isinya penuh dengan tulisan Hindi, kami tertawa terbahak-bahak dan mengambil uang lembaran Rupee untuk membayar Indian Railway Atlas saja, seharga 60 Rupee. Tak puas, kami malah jajan di warung pinggiran platform. Baru setelah pukul 09.30 kami bergegas menuju platform 1 karena pengumuman menyatakan kereta kami tiba dalam waktu 15 menit lagi.

Ini hari yang sangat melelahkan setelah full time selama 5 jam berdesak-desakkan tanpa duduk, akhirnya kami tiba di  stasiun kereta api Bhopal. Bisa dibayangkan satu kabin bisa berisi hampir 30 orang. Pelataran kereta pun penuh sesak tak bisa bergerak. Bahkan ketika kami memutuskan untuk turun saja, sesaat kereta hendak berangkat, kami sama sekali tak bisa bergerak. Kami terpaksa meneruskan saja perjalanan itu.

Kereta itu penuh sesak dengan orang-orang bahkan beberapa ayam peliharaan mereka nampak asik di gembolan yang mereka bawa. Itu pun masih diganggu dengan para pedagang dan pengamen yang masih berusaha mencari celah untuk mencari nafkah dengan menawarkan barang dagangannya dan suaranya yang sumbang tak keruan. Ini lebih mengenaskan daripada kereta api lokal ala Jabodetabek di Indonesia yang familiar dengan suara sumbang para pedagang dan aksi para copet.

Kami sempat singgah di Raja Restaurant pinggir jalan seberang stasiun kereta untuk makan siang. Meski kebersihannya kurang meyakinkan, tetapi rasa makanannya lumayan lezat, mirip-mirip citarasa masakan Padang. Beberapa orang yang kami tanyai menyarankan kami untuk pergi ke seberang stasiun untuk sampai di pangkalan bus yang menuju Shanci. Tak buang-buang waktu karena hari sudah menjelang sore, kami bergegas mencari pangkalan bus yang terlatak di belakang stasiun.

Panas dan lelah ditambah jalan kaki lagi 3 km sungguh perjuangan berat, untungnya trayek bus tujuan Shanci mudah didapat. Kami hanya perlu pasang telinga untuk mendengar para calo atau kenek menawarkan jasa trayek busnya masing-masing. Apalagi kami yang berstatus turis, seperti biasa tak perlu mencari pun mereka segera mengerumuni kami menawarkan jasa trayeknya.

Perjalanan hampir 3 jam dari Bhopal telah membawa kami tiba di distrik Shanci saat hari mulai gelap. Tetapi distrik ini masih nampak sibuk dengan aktivitas perdagangan yang membelah sekitar market tempat pemberhentian bus. Kali ini kami disambut bukan oleh para supir taksi atau becak, serbuan hewan-hewan malam yang terbang seliweran membuat kami buru-buru mencari letak penginapan bernama Jaisalwal Hotel yang katanya hanya berjarak 2 km.

Makin gelap, binatang-binatang itu makin banyak saja berterbangan, menabrak wajah-wajah kami yang sudah lusuh karena debu dan minyak. Di sebuah pintu gerbang hotel yang dimaksud, seorang anak menyambut kami dan mempersilahkan kami naik ke lantai atas, yaitu tempat kamar serta lobi tersedia. Huff, sepanjang tangga, hewan kecil itu berkerumun menjadi satu kesatuan yang membuat bulu kuduk merinding tak keruan. Baunya mulai khas menyengat, apalagi kalau kita injak dan mati. Hewan yang sering disebut walang sangit itu makin menyebarkan bau tak sedap yang menyolok hidung.

Untungnya kamar yang diberikan nampak bersih dan luas. Ternyata penginapan ini juga menyediakan dormitory room seharga 50 Rupees per orang. Mayoritas dormitory room diisi oleh para turis lokal India. Alih-alih demi kenyamanan dan keamanan, kami memilih harga 200 Rupees untuk private double room, dengan dua single bed dan tambahan hot shower.

Bosan di kamar, kami memutuskan keluar menghirup udara sekitar. Berjalan beratus-ratus meter hendak mencari restoran atau warung makan, kami malah nyasar di sebuah pasar rakyat yang sudah mulai berbenah menutup lapak-lapaknya. Tertarik pada sebuah toko yang lumayan besar yang nampak aktif menjual bir lokal, kami singgah untuk minum sebotol bir sambil membicarakan tentang rute perjalanan esok hari dan mengamati situasi sekitar yang tampak makin gelap. Akhirnya kami mengakhiri malam itu dengan tidur nyenyak... (bersambung / Zee)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com