Negosiasi dengan Pasukan Khadafy Gagal

Kompas.com - 05/09/2011, 15:31 WIB
EditorEgidius Patnistik

SHISHAN, KOMPAS.com - Negosiasi penyerahan pasukan Moammar Khadafy di kota Bani Walid gagal dan tidak akan berlanjut, kata seorang pejabat. Kegagalan itu pada gilirannya akan membuka jalan bagi serangan militer. "Saya menyerahkan kepada komandan militer untuk menyelesaikan masalah itu," kata Abdullah Kenshil, juru runding utama pemerintah baru Libya, Dewan Transisi Nasional (NTC).

Kota di sebelah tenggara Tripoli itu merupakah salah satu benteng terakhir pasukan pro-Khadafy. Salah seorang putra dari penguasa yang sudah terguling itu dilaporkan masih bersembunyi kota tersebut.

"Mereka (pasukan pro-Khadafy) menuntut para revolusioner memasuki Bani Walid tanpa senjata," kata Kenshil. Ia menuduh, pemintaan itu  merupakan dalih untuk penyergapan.

Kenshil mengatakan, Khadafy, anak-anak dan banyak anggota keluarganya telah berada di Bani Walid. Namun ia tidak menjelaskan, kapan mereka tiba di sana. Beberapa dari keluarga Khadafy dilaporkan telah meninggalkan tempat itu tapi dua putra Khadafy, Saadi dan Mutassim,  diyakini masih berada di sana.

Negosiasi telah dimulai beberapa hari lalu melalui perantara suku dengan harapan bisa mengambil alih Bani Walid tanpa pertumpahan darah. Saadi Khadafy mengatakan, kegagalan pembicaraan merupakan kesalahan kakaknya Saif al-Islam, yang dicari Mahkamah Kejahatan Internasional bersama dengan ayahnya atas kejahatan terhadap kemanusiaan selama  pemberontakan terjadi.

Saadi mengatakan kepada CNN dalam sebuah wawancara melalui telepon bahwa pidato "agresif" yang disampaikan kakaknya beberapa hari lalu telah menyebabkan kerusakan dalam proses negosiasi. Ditanya tentang lokasi keberadaanya, Saadi mengatakan dia "berada di sekitar" Bani Walid tetapi terus bergerak, lapor CNN Minggu (4/9/2011) malam. Dia mengatakan dirinya sudah tidak melihat ayah atau saudara selama dua bulan. Saadi mengatakan ia  "netral" tapi tetap "siap membantu dalam merundingkan gencatan senjata," tambah CNN.

Sementara itu, juru bicara militer NTC Ahmed Omar Bani mengonfirmasi laporan sebelumnya tentang kematian seorang putra Khadafy, yaitu Khamis. Ia mengatakan, putra Abdullah Senussi, seorang ahli mata-mata Khadafy, juga terbunuh. "Saya dapat mengonfirmasikan bahwa Khamis dan Muhammad (Senussi) tewas di sekitar Tarhuna," katanya kepada wartawan di Benghazi. Tarhuna merupakan kota di utara Bani Walid, di jalan dari arah Tripoli.

Khamis, 28 tahun, adalah putra bungsu Khadafy. Ia mengepalai sebuah brigade yang dipandang sebagai kekuatan paling efektif dan setia kepada pemimpin Libya. Pasukan pemberontak menguasai pangkalan pasukan Khamis di selatan Tripoli dalam pertempuran sengit pekan lalu.

Bani Walid merupakan jantung suku Warfalla yang kuat, yang membentuk inti dari tentara Khadafy dan diberi posisi politik tertinggi dalam rejim Khadafy. Namun suku itu telah terbelah antara apakah akan terus mendukung Khadafy atau tidak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.