Libya Tolak Pasukan PBB

Kompas.com - 31/08/2011, 13:23 WIB
EditorKistyarini

NEW YORK, KOMPAS.com — Pemimpin sementara Libya menolak usulan mengenai penempatan semacam pengamat atau pasukan militer internasional, kata utusan khusus PBB megnenai perencanaan pascakonflik bagi Libya, Selasa (30/8/2011).

"Kami kira sekarang pengamat militer takkan diminta oleh pemimpin (sementara Libya)," kata utusan Ian Martin setelah menghadiri pertemuan tertutup Dewan Keamanan (DK) PBB.

"Sangat jelas bahwa Pemerintah Libya ingin menghindari sejenis penggelaran militer PBB atau yang lain," katanya.

Sebelumnya, Mustafa Abdel Jalil, pemimpin Dewan Peralihan Nasional (NTC), mengatakan, Libya tak memerlukan bantuan luar untuk memelihara keamanan.

Namun, Martin mengatakan, PBB menduga NTC akan meminta bantuannya untuk membentuk satuan polisi, demikian laporan Reuters.

"Mereka sangat terarik pada bantuan untuk menata dan mengendalikan keamanan masyarakat serta secara bertahap mengembangkan pasukan keamanan masyarakat yang secara demokratis dapat diandalkan," kata Martin.

Kendati pasukan yang selama enam bulan berjuang untuk menggulingkan penguasa Moammar Khadafy kini menguasai sebagian besar negeri tersebut, pasukan Khadafy masih mengendalikan beberapa kota kecil Libya, bahkan sekalipun pemimpin mereka telah bersembunyi dan sebagian besar anggota keluarganya telah meninggalkan negeri itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Istri Khadafy, Safia, putrinya—Aisha, putranya Hannibal dan Mohammed, beserta anak-anak mereka memasuki Aljazair pada Senin (29/8/2011), melalui perbatasan Libya-Aljazair, kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Aljazair yang dikutip kantor berita APS. Putri Khadafy bahkan melahirkan bayi perempuan di Aljazair, Selasa (30/8/2011).

Ketika Kementerian Luar Negeri Aljazair mengumumkan kedatangan keluarga Khadafy, menteri kehakiman kelompok gerilyawan tersebut, Mohammed Al-Allagya, mengatakan kepada AFP Pemerintah Aljazair akan diminta mengembalikan mereka ke Libya.

Pemerintah Aljazair menyatakan, negara tersebut memutuskan untuk menerima istri dan tiga anak pemimpin Libya itu "semata-mata karena alasan kemanusiaan."

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.