Duka Lara Gadis Algojo Khadafy

Kompas.com - 29/08/2011, 13:28 WIB
EditorEgidius Patnistik
Seorang gadis algojo Khadafy, Nisreen (19 tahun), mengaku telah membantai 11 orang pemberontak. Sekarang ia diborgol di tempat tidur rumah sakit, menunggu keadilan.

MATANYA coklat besar dan bibir laksana kuncup wawar. Wajahnya dibingkai kerudung merah jambu. Namun kaki memarnya dipasangi borgol yang kemudian diikatkan ke kaki tempat tidur. Dia adalah Nisreen Mansour al Forgani, gadis cantik berusia 19 tahun, seorang pembunuh serial dari rejim Kolonel Moammar Khadafy.

Daily Mail, Minggu (28/8/2011), melaporkan, di sebuah kamar yang dijaga ketat di rumah sakit militer Matiga, Tripoli, Nisreen mengaku kepada media Inggris itu sehari sebelumnya bahwa ia telah mengeksekusi 11 orang tahanan yang dicurigai sebagai pemberontak pada hari-hari menjelang jatuhnya ibukota Libya itu pekan lalu. Mereka ditembak dari jarak dekat. Saya membunuh yang pertama, lalu mereka akan membawa yang berikutnya ke ruangan itu," kata Nisreen. "Dia (korban) akan melihat mayat di lantai dan tampak terkejut. Lalu saya akan menembaknya juga. Saya melakukannya dari jarak sekitar semeter."

Ia hanya salah satu dari ribuan remaja perempuan dan perempuan muda yang direkrut milisi khusus perempuan Khadafy. Kini ia menjadi tawanan pemberontak dan takut hidupnya akan segera tamat. Menurut Daily Mail, terlepas dari pembunuhan yang telah dilakukannya, mustahil untuk tidak merasa kasihan padanya. Nisreen menyatakan -dan para dokternya, bahkan sejumlah tentara pemberontak percaya padanya- bahwa ia harus menembak di bawah tekanan besar. Dia juga mengaku telah mengalami pelecehan seksual oleh tokoh-tokoh militer senior, salah satunya komandan brigade elite Tripoli yang bertugas melindungi Khadafy. "Saya telah katakan kepada mereka (para pemberontak) apa yang saya lakukan," ungkapnya. "Mereka marah. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya sekarang."

Bagaimana bisa perempuan muda itu, yang dulu tinggal bersama ibunya di Tripoli dan menikmati musik dansa, menjadi sedemikian berlumuran darah tanganya?

Nisreen mengatakan, keluarganya bukan pendukung rejim Khadafy, meskipun sulit untuk memverifikasi hal itu pasca-pembebasan Tripoli. Orangtuanya berpisah ketika ia masih kecil. Nisreen tidak menyukai istri baru ayahnya. Ia memilih tinggal bersama ibunya. Salah seorang teman ibunya, seorang perempuan bernama Fatma al Dreby, merupakan pemimpin cabang milisi perempuan Pengawal Rakyat Khadafy. Tampaknya, hubungan dengan Fatma itu merupakan faktor yang menentukan.

Tahun lalu, Nisreen meninggalkan kuliahnya dengan maksud bisa merawat ibunya yang menderita kanker. Yang kemudian terjadi, Fatma merekrut dia sebagai Garda Rakyat. Keluarganya protes, tetapi Fatma tidak goyah. Nisreen yang masih muda dan cantik merupakan tipe yang mereka inginkan. "Ada sekitar 1.000 perempuan dari seluruh Libya," kenang Nisreen tentang kamp pelatihan mereka di Tripoli. "Saya di sana bersama seorang gadis bernama Faten, yang saya kenal di perguruan tinggi."

Para peserta dilatih cara menggunakan senjata, dan Nisreen dilatih sebagai penembak jitu. Pada awal pecahnya protes rakyat pada Februari lalu, dua gadis itu ditempatkan milisi di sebuah rumah mobil di dekat bandara Tripoli. Tugas utama mereka termasuk menjaga pos-pos pemeriksaan di sekitar kota. Unit mereka bermarkas di Brigade 77, bersebelahan dengan kompleks perumahan Khadafy di Bab Al-Azizya. Namun Nisreen mengatakan, dia hanya sekali melihat diktator itu, ketika konvoi Khadafy melintasi pos jaganya.

Fatma pendukung fanatik rejim Khadafy, kata Nisreen. "Dia mengatakan kepada saya, jika ibu saya mengatakan sesuatu yang melawan Khadafy, saya harus segera membunuhnya. Jika saya mengatakan sesuatu tentang pemimpin (Khadafy) yang ia tidak suka, saya akan dipukul dan dikunci di kamarku. Dia juga mengatakan kepada kami, jika pemberontak datang, mereka akan memperkosa kami."

Itu hanya sepenggal aksi manipulasi seorang pemimpin milisi yang tak tahu malu, yang menurut Nisreen, merupakan germo yang menyediakan perempuan milisi bagi kepuasan seksual seorang rekan seniornya, seorang laki-laki. "Fatma punya kantor di markas Brigade 77. Ada sebuah kamar yang dilengkapi tempat tidur di kantor itu. Suatu hari, dia (Fatma) memanggil saya dan menempatkan saya di ruangan itu sendirian. Mansour Dau, komandan Brigade 77, kemudian masuk dan menutup pintu." Di situ Dau memerkosa Nisreen.

"Setelah itu selesai, Fatma mengatakan kepada saya untuk tidak memberitahu siapa pun, bahkan tidak juga orang tua saya," kata Nisreen. "Setiap kali Mansour datang ke markas, dia disediakan gadis yang lain oleh Fatma. Sebagai imbalan, Fatma diberikan hadiah."

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.