Dubes Israel Didesak untuk Diusir

Kompas.com - 15/08/2011, 07:58 WIB
EditorEgidius Patnistik

AMMAN, KOMPAS.com - Sebanyak 13 anggota parlemen Jordania, Minggu (14/8), menyerukan pengusiran duta besar Israel dari ibu kota negeri itu, Amman. Anggota parlemen tersebut menyeru pemerintah Jordania agar mengeluarkan pernyataan yang mengutuk kegiatan permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki. Seruan itu mereka sampaikan dalam sebuah memo yang ditandatangani Minggu.

Di dalam memo yang dikirim kepada Ketua Majelis Rendah Feisal Fayez, semua anggota parlemen tersebut menyerukan kepada  pemerintah Jordania agar melakukan tindakan yang layak dalam menghadapi perbuatan Israel di wilayah pendudukan Palestina. Jordania dan Mesir adalah dua negara Arab yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Israel baru-baru ini telah menyetujui proyek perumahan baru di permukiman Yahudi yang dibangun di tanah yang didudukinya di Jerusalem Timur. Keputusan itu telah memicu kecaman luas dari masyarakat Palestina. Pembicaraan perdamaian yang dijembatani AS antara Israel dan Palestina macet pada 2010, karena adanya perbedaan mengenai dilanjutkannya pembangunan permukiman di Tepi Barat Sungai Jordan, yang diduduki Israel sejak 1967.

Dalam perkembangan lain, Palestina ingin mendaftar sebagai anggota PBB. Amerika Serikat, sebagai sekutu Israel dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB, mengancam akan menggagalkan usaha Palestina itu dengan hak vetonya. Pendaftaran bagi keanggotaan PBB harus disetujui oleh Dewan Keamanan.

Pihak Palestina bertekad melanjutkan usaha mereka menjadi anggota PBB pada 20 September, kata Menteri Luar Negeri Riyad al-Malki kepada AFP pada Sabtu. "Presiden Palestina Mahmud Abbas akan mengajukan permohonan kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon pada pembukaan sidang ke-66, pada 20 September," kata al-Malki.

"Abbas akan melakukan prakarsa bersejarah ini dan Ban Ki-moon selanjutnya akan mengajukan kepada Dewan Keamanan", katanya.

Seorang pejabat senior Israel yang tak ingin jatidirinya disebutkan mengecam keputusan Palestina itu. "Jelas Mahmud Abbas telah memutuskan enggan mengadakan perundingan langsung; ini sudah diperkirakan," katanya. "Perdana Menteri (Israel) Benjamin Netanyahu mempercayai proses perdamaian hanya dapat berjalan melalui perundingan nyata dan langsung," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.