Pesawat Rusia Mendarat Darurat, 15 Luka

Kompas.com - 08/08/2011, 23:57 WIB
EditorRobert Adhi Kusumaputra

MOSKWA, KOMPAS.com – Satu pesawat tua buatan Rusia kembali mengalami kecelakaan, Senin (8/8/2011). Sedikitnya 15 orang terluka, saat pesawat penumpang Antonov An-24 tergelincir keluar landasan di bandara Blagoveschensk, Rusia timur jauh.

Pesawat yang mengangkut 36 penumpang itu dijadwalkan terbang menuju kota Khabarovsk, Rusia timur, tetapi mengalihkan rutenya karena jarak pandang yang terbatas dan tiupan angin keras.

Menurut Kementerian Kesehatan Rusia, 15 orang terluka, dan tujuh terpaksa harus dirawat di rumah sakit setelah pendaratan darurat yang mematahkan salah satu sayap pesawat bermesin baling-baling turboprop itu. “Pesawat itu kehilangan chassis dan sayap kiri setelah tergelincir keluar landasan dan terperosok di tanah,” ungkap Kementerian Keadaan Darurat Rusia.

Pesawat An-24 adalah salah satu pesawat tua produksi pabrikan Antonov di era Uni Soviet, yang masih menjadi andalan dunia penerbangan Rusia untuk mengangkut penumpang dan pasokan barang ke kota-kota terpencil di Siberia dan kawasan jauh di utara. Pesawat ini terakhir diproduksi tahun 1979, dan sudah sering mengalami kecelakaan.

Dilema transportasi

Rusia hingga saat ini masih menjadi produsen pesawat tempur utama, dengan produk Sukhoi dan MiG-nya. Namun, sektor industri pesawat sipil negara itu sudah lama tak berkembang menyusul runtuhnya Uni Soviet awal 1990-an.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev sudah memerintahkan seluruh armada pesawat tua bikinan Rusia ini dipensiunkan mulai 1 Januari 2012 nanti setelah terjadi serangkaian kecelakaan. Namun, para pelaku bisnis penerbangan di Rusia menghadapi dilema dengan larangan terbang ini.

Meski sudah tua dan sering kecelakaan, pesawat-pesawat hasil rancang bangun asli Rusia, seperti Tupolev Tu-134 dan An-24, masih diandalkan, karena menjadi pesawat yang cukup ringan di landasan-landasan gravel di kawasan tundra dan kutub yang tertutup es abadi di wilayah Kutub Utara.

Kota-kota di wilayah itu, yang dibangun pada era Stalin untuk keperluan pertambangan minyak atau mineral, terletak beribu-ribu kilometer jauhnya dari kota-kota besar Rusia, dan sering tidak punya jaringan transportasi lain kecuali pesawat udara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pilihan mengganti armada dengan pesawat-pesawat yang lebih baru buatan negara-negara Barat juga menjadi pilihan sulit, karena rata-rata pesawat buatan Barat itu terlalu berat untuk mendarat di landasan-landasan darurat tersebut.

Produsen pesawat Rusia, seperti pabrikan Sukhoi, sudah mencoba menghidupkan lagi produksi pesawat sipilnya, seperti Sukhoi Superjet 100. Namun, diperkirakan masih butuh beberapa tahun lagi sampai industri pesawat komersial Rusia kembali menyamai era Uni Soviet.



25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X