Ekstrem Kanan dan Imigran di Eropa (2)

Kompas.com - 26/07/2011, 14:01 WIB
EditorEgidius Patnistik

PENGGUNAAN kekerasan oleh kelompok ekstrem kanan di Eropa bukan hal baru. Kekerasan seperti yang terjadi Jumat lalu dan menewaskan 76 orang di Norwegia pernah terjadi di akhir tahun 1970-an, meski dalam skala kecil.

Tahun 1980, seorang Jerman bernama Gundolf Koehler yang berusia 27 tahun meledakkan bom di Oktoberfest (pesta minum bir) di Munich. Peristiwa itu menewaskan Koehler dan 12 orang lainnya. Dokumen yang ditemukan di tubuh Koehler mengaitkan dia dengan Kelompok Pertahanan Olahraga yang bersifat paramiliter (Wehrsportgruppe) yang dipimpin Karl-Heinz Hoffmann. Orang yang terakhir ini melihat dirinya sebagai "keturunan spiritual" Hitler. Koehler diyakini bertindak sendirian.

Tahun 1990-an, neo-Nazi Jerman, sering bertindak sendirian, menyerang sejumlah rumah keluarga imigran Turki. Sebuah pemboman pada 1993 menewaskan dua perempuan Turki dan tiga anak, dan pada 2000, 10 imigran, kebanyakan Yahudi, terluka dalam serangan bom di Dusseldorf. Kota-kota seperti Guben di Jerman bagian timur menjadi terkenal karena serangan kelompok kepala plontos terhadap para pencari suaka, yaitu warga Aljazair, Afrika dan Turki.

Pemerintah Jerman berusaha untuk melarang partai ultra kanan, Partai Nasional Demokrat pada 2003, dengan menggunakan sebuah klausul dalam konstitusi yang melarang partai neo-Nazi. Namun, Mahkamah Konstitusi Jerman menolak untuk menggelar perkara itu karena pemerintah telah menginflitrasi partai itu dengan informan. Partai Nasional Demokrat (NPD), yang menyatakan menolak kekerasan, memenangkan 5 persen suara dalam pemilu di negara bagian Saxony tahun 2009.

Dinas rahasia Jerman baru-baru ini memperkirakan, ada 25.000 ekstrimis ultra kanan di negara itu dan jumlah kejahatan oleh kelompok ekstrem kanan di Jerman bagian timur, yang dulu wilayah bekas komunis, telah meningkat secara mengkhawatirkan dengan angka mencapai 40 persen. Kelompok-kelompok Neo-Nazi seperti, Sturm 34, tetap aktif di Jerman.

Individu yang berpandangan atau bersimpati pada kelompok ekstrem kanan di Eropa telah melakukan aksi pemboman atau serangan dengan pisau terhadap sasaran imigran, gay dan Yahudi. Namun belum ada preseden untuk serangan besar seperti yang terjadi di Norwegia pada Jumat lalu, yang sekarang ketahuan sebagai hasil sebuah proses panjang dan perencanaan cermat. Ironisnya, tersangka pelaku serangan di Norwegia, Anders Behring Breivik, yang telah ditangkap dan mulai disidangkan, tampaknya telah belajar dari metodologi Al Qaeda dalam merencanakan serangan. Ia diketahui menulis, "Sama seperti prajurit jihad yang merupakan pohon prem dari umat, kita akan menjadi pohon prem bagi Eropa dan kekristenan."

Hanya ada satu kejadian sebelumnya yang berskala seperti tragedi pada Jumat itu yang persalahkan pada kelompok ultra kanan, yaitu peristiwa di Bologna, Italia, tahun 1980, ketika 85 orang tewas dalam ledakan bom di stasiun kereta api. Nuclei Armati Rivoluzionari, sebuah faksi dari kelompok esktrem kanan Terza Posizione, yang muncul dari reruntuhan kelompok neo-fasis, mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Pada waktu itu, kelompok ekstrem kanan Italia punya hubungan dengan dinas rahasia negara itu, yang melihat mereka sebagai alat dalam perang melawan komunisme. Italia kemudian punya Partai Komunis terkuat di Eropa Barat. Seorang hakim di Roma yang menyelidiki kelompok itu dibunuh seminggu sebelum pengeboman Bologna tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun Terza posizione didorong oleh sebuah perjuangan ideologi khas Italia. Nah, tiga puluh tahun berlalu, sasaran kelompok-kelompok neo-fasis kini adalah apa yang mereka anggap sebagai islamisasi Eropa, dan penerimaan konsep politik multikulturalisme. Itulah yang dapat menjelaskan mengapa sasaran di Norwegia pada Jumat lalu itu terkait dengan Partai Buruh yang berkuasa.

Selama beberapa generasi, perpolitikan Eropa telah didefinisikan dalam persaingan antara sayap kiri dan kanan, sosialis lawan konservatif atau Demokrat Kristen. Pembagian ini masih berlaku, tetapi hasil pemilu akhir-akhir ini dan kebangkitan kelompok ekstrem kanan memperlihatkan isu-isu identitas mulai merasuki kehidupan politik benua itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.