Murdoch Resmi Meminta Maaf

Kompas.com - 17/07/2011, 04:11 WIB
Editor

London, Sabtu - Raja media, Rupert Murdoch (80), Sabtu (16/7), resmi meminta maaf melalui media Inggris atas skandal peretasan telepon yang dilakukan kelompok bisnis medianya sehari setelah dua pejabat teras News Corporation mengundurkan diri.

”Kami meminta maaf,” demikian ungkap Rupert Murdoch di beberapa berita utama Inggris, Sabtu, yang diakhiri dengan: ”Salam Hormat Saya, Rupert Murdoch”.

”Kami meminta maaf atas kesalahan serius yang kami lakukan. Kami juga sangat menyesal telah melukai sejumlah individu. Kami juga menyesali tidak cepat bertindak untuk mengatasi situasi ini,” demikian pernyataan Murdoch di media Inggris.

Pernyataan Murdoch itu terjadi sehari setelah raja media kelahiran Australia yang kini warga AS itu kehilangan dua orang andalannya, Les Hinton pucuk pimpinan Dow Jones dan Rebekah Brooks, direktur eksekutif sayap media Murdoch di Inggris, News International, hari Jumat lalu.

Meski Murdoch telah mengubah sikap kerasnya, dengan meminta maaf, tak pelak apa yang terungkap hari itu sungguh memukul balik pula kubu pemerintahan Perdana Menteri David Cameron.

Berita yang terungkap, Jumat, cukup mengguncangkan. Ternyata dalam 15 bulan terakhir, PM Inggris David Cameron telah melakukan 26 kali pertemuan dengan pucuk pimpinan perusahaan Murdoch, termasuk anak pewaris bisnis media News Corp, James Murdoch yang juga menjalankan bisnisnya sebagai pucuk pimpinan News Corp Asia serta Eropa.

Cameron juga diberitakan pernah mengundang Andy Coulson, mantan direktur medianya yang pernah menjadi editor di tabloid terlaris Inggris milik Murdoch, News of the World, di tempat peristirahatan Cameron, Maret silam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Undangan berkunjung Coulson terjadi hanya dua bulan setelah ia meninggalkan posnya sebagai Direktur Media PM Inggris tersebut.

Pertemuan-pertemuan itu— termasuk pula pertemuan dengan Rebekah Brooks—menunjukkan, betapa besarnya pengaruh Murdoch dan medianya di kancah perpolitikan Inggris.

News Corp yang berbasis di AS ini guncang setelah terungkapnya serangkaian skandal yang menyebutkan, sejumlah jurnalis News Corp dan penyelidik bayaran di bawah bendera News of the World telah melakukan peretasan telepon ribuan orang, dari keluarga korban perang di Afganistan, hingga telepon pejabat tinggi Inggris, termasuk PM David Cameron.

Tuduhan yang membuat goyah bisnis media Murdoch termasuk pula dugaan suap terhadap sejumlah pejabat kepolisian Inggris untuk imbalan informasi bagi media News Corp.

Murdoch kemudian menutup tabloid laris News of the World pekan lalu serta batal mengambil alih televisi terkenal Inggris, BSkyB, Rabu. Pada hari Jumat, dua pejabat News Corp pun mundur. (AP/AFP/Reuters/sha)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.