FBI Periksa Perusahaan Murdoch

Kompas.com - 15/07/2011, 09:55 WIB
EditorEgidius Patnistik

WASHINGTON, KOMPAS.com - Biro Penyelidikan Federal (FBI) AS melancarkan sebuah investigasi terhadap perusahaan Rupert Murdoch, News Corp, setelah ada laporan bahwa para karyawan perusahaan itu mungkin telah berusaha untuk menyadap percakapan telepon dan voice mail dari korban selamat, korban tewas serta keluarga korban peristiwa serangan teroris 11 September 2001, kata seorang penegak hukum federal kepada CNN, Kamis (14/7/2011) waktu setempat.

"Kami mengetahui tuduhan-tuduhan itu dan sedang mendalaminya," kata sumber itu, yang minta namanya tidak disebutkan karena sensitivitas penyelidikan tersebut. "Kami sedang mendalami siapa pun yang bertindak untuk atau atas nama News Corp, dari pimpinan puncak hingga ke tukang sapu," untuk mengumpulkan informasi dan menentukan apakah telah terjadi pelanggaran hukum. Sumber itu mengatakan, karena penyelidikan baru saja dimulai, masih terlalu dini untuk mengatakan kapan wawancara pertama akan dilakukan. Yang pasti, kata dia, pemeriksaan tersebut merupakan sebuah "prioritas tinggi".

Peter T Raja, anggota parlemen Partai Republik dari wilayah New York, awal pekan ini, telah meminta Direktur FBI, Robert Mueller, untuk menyelidiki kemungkinan para wartawan yang bekerja untuk media milik Murdoch telah menyadap telepon korban dan kerabat korban peristiwa 11 September atau sering disebut 9/11 itu.

Pihak News Corp, Kamis, mengatakan no comment terhadap penyelidikan FBI atau kemungkinan tentang rapat dengar pendapat dengan Kongres AS.

Kekhawatiran adanya praktek penyadapan oleh kelompok media milik Murdoch di AS sebagaimana yang terungkap sudah dilakukan kelompok media itu di Inggris, tampaknya bisa terlacak dari sebuah laporan yang diterbitkan The Mirror, sebuah tabloid Inggris, Rabu. Tabloid itu mengutip "sebuah sumber" yang merujuk ke mantan perwira polisi yang sekarang bekerja sebagai penyelidik swasta. "Penyilidik itu dipakai oleh banyak wartawan di Amerika dan dia baru-baru ini mengatakan kepada saya bahwa ia telah diminta untuk menyadap data telepon pribadi korban 9/11," kata sumber itu sebagai dilaporkan media tersebut.

Sumber itu mengatakan kepada The Mirror bahwa permintaan tersebut datang dari News of the World, salah satu media milik Murdoch yang berada di pusat skandal penyadapan telepon di Inggris dan telah ditutup hari Minggu lalu. "Dia mengatakan bahwa para wartawan itu memintanya untuk mengakses catatan-catatan yang menunjukkan panggilan ke dan dari ponsel milik para korban dan keluarga mereka," tulis tabloid tersebut.

"Dugaan dia adalah bahwa mereka menginginkan informasi tersebut sehingga mereka bisa menyadap ke kotak suara yang relevan (untuk berita mereka), seperti yang terbukti telah mereka lakukan di Inggris."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penyelidik swasta itu mengatakan ia mengabaikan pekerjaan itu. Dia tahu bagaimana tidak sensitifnya penelitian tersebut dan betapa buruknya dampak hal itu. Penyelidik itu mengatakan, para wartawan tersebut tampaknya sangat tertarik untuk mendapatkan catatan telepon dari para korban yang berasal dari Inggris."

Keluarga para korban serangan teroris itu berang atas kemungkinan para wartawan telah menyadap telepon korban. "Itu benar-benar tidak etis, tidak profesional dan pada dasarnya kriminal," kata Jim Riches, pensiunan wakil kepala Departemen Kebakaran New York yang kehilangan seorang putranya dalam serangan itu sebagaimana dikutip CNN. Sally Regenhard, yang juga kehilangan seorang putranya dalam serangan itu, menyebut hal tersebut sebagai "sangat mengerikan bahwa hal privasi dan keamanan pribadi bisa dilanggar sedemikian dengan cara yang mengerikan."

Senator Partai Demokrat, Frank Lautenberg, dari New Jersey mengatakan, keluarga korban serangan 11 September telah "cukup menderita" dan menuntut jawaban.

Tekanan untuk melakukan penyelidikan federal terhadap kerajaan media Murdoch bertambah ketika seorang anggota kunci komite pengawas DPR meminta Kongres untuk mendalami tuduhan bahwa salah satu dari perusahaan Murdoch yang berbasis di AS mungkin telah melanggar undang-undang anti-penyuapan serta sejumlah UU lainnya.

News of the World, sebuah tabloid milik Murdoch di Inggris yang telah berusia 168 tahun dan terakhir beroplah 2,5 juta eksemplar, ditutup hari Minggu lalu di tengah tuduhan bahwa wartawannya secara ilegal menyadap pesan-pesan telepon milik korban pembunuhan, korban teroris, politisi dan selebriti.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.