Sudan Selatan Siap Merdeka

Kompas.com - 09/07/2011, 03:51 WIB
Editor

Juba, Jumat - Kurang dari 24 jam sebelum Sudan Selatan resmi berdiri, kegembiraan menyelimuti seluruh penjuru ibu kota Juba, Jumat (8/7). Warga berkumpul sambil menari di jalan dan persiapan terus berlangsung menjelang proklamasi kemerdekaan, Sabtu ini.

Parade kelompok veteran, tentara, dan warga sipil, termasuk kaum perempuan, berbaris melewati pusat kota Juba di bawah terik matahari. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian tradisional sambil menari diiringi tabuhan drum dan perkusi.

Tak jauh dari sana, para pekerja bekerja keras menyelesaikan panggung upacara tepat pada waktunya di mausoleum John Garang yang menjadi lokasi utama. John Garang adalah pemimpin perjuangan Sudan Selatan yang terbunuh hanya beberapa bulan setelah penandatanganan perjanjian damai tahun 2005, yang mengakhiri konflik brutal selama beberapa dekade antara Sudan utara dan selatan.

”Saya sangat gembira dengan kemerdekaan ini, itu alasan saya membantu. Saya ingin menyambut semua yang datang untuk merayakan ini dan memperlihatkan kehebatan negeri kami,” kata Jhawawar Dawson (28), yang bekerja secara sukarela mempersiapkan panggung upacara.

Menteri Informasi Baranaba Marial Benjamin yakin persiapan akan selesai pada waktunya. Pada Sabtu, 9 Juli 2011, jutaan warga Sudan Selatan dan perwakilan negara asing—termasuk 30 pemimpin negara Afrika—akan menghadiri peringatan lahirnya negara termuda di dunia itu.

Pergantian hari

Lonceng gereja akan mengawali pesta rakyat tepat pada pergantian hari, lewat tengah malam. Upacara utama terdiri atas parade militer, doa, pengibaran bendera Republik Sudan Selatan, dan penandatanganan konstitusi oleh presiden pertama Sudan Selatan, Salva Kiir

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki- moon dijadwalkan tiba di Juba, Jumat. Adapun Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma lebih dulu bertemu Pemimpin Sudan Omar al-Bashir di Khartoum sebelum terbang ke Juba.

Bashir, yang oleh Mahkamah Kriminal Internasional dijadikan tersangka kejahatan melawan kemanusiaan dan genosida di Darfur, berjanji untuk hadir. Menurut Bashir, dia berkepentingan agar Sudan Selatan stabil dan aman. Pejabat Sudah Selatan memastikan Al-Bashir akan menjadi tamu kehormatan.

Namun, Menteri Luar Negeri Perancis Alain Juppe, yang akan tiba Sabtu pagi, mengatakan akan berusaha agar dirinya dan tamu negara lainnya, seperti Menlu Inggris William Hague, tidak bertemu dengan Bashir. ”Hanya karena Bashir ada di sana, tidak berarti kami tak bisa memperlihatkan dukungan pada upacara kemerdekaan itu,” kata Juppe.

Konflik bersenjata antara Sudan utara dan selatan terjadi selama lebih dari 50 tahun. Jutaan orang tewas dan wilayah itu porak-poranda. Konflik baru berakhir setelah penandatanganan Perjanjian Perdamaian Komprehensif (CPA) tahun 2005.

Kedua pihak sepakat berdamai dengan tekanan dari negara asing, terutama Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia. Referendum diselenggarakan pada Januari 2011, dan 99 persen warga Sudan Selatan memilih memisahkan diri, berujung pada proklamasi kemerdekaan Sudan Selatan. (Ap/afp/reuters/was)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.